Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengingat dan Menyatakan: 15 Januari Indonesia Bertempur

Sumber: kampoengngawi.com


Penulis: Naufal Zaidan Aryunsah (Sekretaris Bidang Riset Pengembangan dan Keilmuan IMM Ibnu Rusyd)


Bangsa Indonesia punya banyak kisah tentang perjuangan dalam mempertahankan hingga menyatukan kedaulatan NKRI dan Indonesia juga memiliki sekian banyak putra putri yang namanya ditetapkan sebagai pahlawan, berkat jasanya yang telah membela tanah air. Namun hanya ada satu sosok putra bangsa yang pengabdiannya berada di lautan, beliau adalah Laksamana Muda (Anumerta) Yosaphat Sudarso. Yos Sudarso lahir di Pungkursari, kota Salatiga, Jawa Tengah pada 24 November 1925

Ada sebuah sejarah yang perlu diingat dan dikenang oleh generasi penerus saat ini, tepatnya pada 15 Januari 1962, terjadi peristiwa pertempuran laut di Indonesia. Pertempuran itu berlangsung di laut Arafuru, yang melibatkan Indonesia dan Belanda.

Latar belakang dari pertempuran itu bermula karena diplomasi politik pemerintah Indonesia dengan Belanda, lantas dalam piagam pengakuan atas kedaulatan NKRI, Irian Barat dinyatakan masih berstatus wilayah sengketa. Belanda pada saat itu sedang gencar berupaya mempertahankan wilayah jajahannya, meski pada piagam pengakuan kedaulatan telah disepakati oleh kedua belah pihak guna menyelesaikan masalah Irian Barat melalui perundingan, tetapi pihak Belanda melakukan ingkar janji dengan segala dalih, sehingga berdampak pada hubungan Indonesia dan Belanda sejak tahun 1950 kembali berbuah buruk. 

Berlangsungnya diplomasi dari tahun 1950 hingga 1960 ternyata tidak membuahkan hasil, maka dari itu rakyat Indonesia menyepakati untuk berjuang dengan cara apapun untuk kembali merebut Irian Barat ke pangkuan NKRI, tapi ternyata hal itu masih belum berhasil sehingga memaksa rakyat dan pemerintah untuk melanjutkan upaya pembebasan Irian Barat melalui konfrontasi yang dicetuskan pada 1959. Pada 17 Agustus 1960, Indonesia secara sepihak memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, kemudian pada 1961 Indonesia meningkatkan konfrontasi di segala bidang, hingga diambil keputusan yang dikenal sebagai Trikora (Tri Komando Rakyat) yang diumumkan oleh presiden Soekarno pada 19 Desember 1961.

Pada awal tahun 1962, presiden Soekarno mengeluarkan keputusannya, yakni dibentuknya Komando Mandala yang ditugaskan di wilayah Indonesia timur. Panglima Mayjen Soeharto memberi instruksi meningkatkan militer di sekitar wilayah Irian barat sesuai dengan taraf perjuangan diplomatik dan dalam waktu sesingkat singkatnya menciptakan kebebasan serta mendudukan unsur kekuasaan pemerintah Republik Indonesia di Irian Barat. 

Misi dimulai pada 9 Januari 1962 yang bermula dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pelayaran itu merupakan salah satu bagian operasi Komando Mandala yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut RI, prajurit dan awak kapal Indonesia berlayar ke Irian Barat menggunakan empat kapal berjenis MTB (Motor Torpedo Boat) yakni KRI Harimau, KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Singa. Namun sebelum 15 Januari, tepatnya di perairan Tanjung Wedan, KRI Singa mengalami gangguan indikator kapal sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Pada tanggal 15 Januari 1962, MTB ALRI berlayar secara senyap pada malam hari dengan mematikan lampu kapal dan radar kapal, kecuali radar KRI Macan Kumbang.

Belum sampai menduduki wilayah yang jadi tujuannya, ternyata sekitar waktu menunjukkan pukul 21.45 Waktu Indonesia Timur, ketiga MTB ALRI terdeteksi oleh pesawat neptune Belanda yang sedang berpatroli, kemudian ketiga MTB ALRI dikejutkan dengan dua pesawat neptune belanda yang menembakkan peluru suar sehingga menerangi cakrawala, secara bersamaan salah satu radar KRI menangkap ada tiga kapal Belanda berjenis penghancur, yaitu Hr. Ms. Eversten, Hr. Ms. Kortenaer, lalu diikuti kapal Hr. Ms. Utrecht yang bergerak menjepit MTB ALRI. Situasi menjadi lebih tegang saat kapal Belanda melakukan tembakan yang membuat air bersemburan di sisi kiri dan kanan MTB ALRI, sementara itu pesawat neptune Belanda juga masih mengelilingi ketiga KRI sambil menembakkan peluru.

Mengetahui situasi semakin genting, Komodor Yos Sudarso mengambil alih komando KRI Macan Tutul dan melaju dengan kecepatan penuh menuju kapal Belanda,

Manuver itu sengaja dilakukan oleh Komodor Yos Sudarso sebagai taktik untuk mengalihkan kapal Belanda sekaligus menghindarkan KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau dari serangan kapal Belanda, sehingga tembakan  kapal kapal Belanda hanya mengarah ke KRI Macan Tutul, sedangkan KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang berputar arah haluan, berhasil lolos dari serangan kapal Belanda. 

Kapal kapal Belanda melakukan tembakan salvo (secara bersamaan) karena mengira KRI Macan Tutul  yang bergerak cepat akan meluncurkan torpedo, Komodor Yos Sudarso lalu memberi seruan melalui radio RTF kapal, seruan yang dikumandangkan yaitu "Kobarkan Semangat Pertempuran". KRI Macan Tutul memberikan tembakan secara terarah ke Hr. Ms. Eversten, giliran tembakan kapal Belanda Hr. Ms. Eversten mengenai puritan KRI Macan Tutul hinggamenyebabkan terbakar, kemudian KRI Macan Tutul berusaha mengubah arah haluan dan Hr. Ms. Eversten pun berusaha mengejar. Pada keadaan berikutnya, pukul 22.35 WIT tembakan kapal Belanda yang kesekian kalinya yakni Hr. Ms. Eversten, tepat mengenai anjungan KRI Macan Tutul, yang akhirnya membuat KRI Macan Tutul meledak kemudian tenggelam.

Pasca pertempuran laut itu, kampanye militer Indonesia ditunjukkan dengan adanya operasi Jayawijaya yang mana dilakukan pendaratan pasukan melalui laut dan udara sejak 10 Agustus 1962, berhasilnya pendaratan itu telah mengobarkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan tindakan selanjutnya, sedangkan di pihak Belanda terdapat gejala hilangnya kepercayaan pihak Belanda di Irian Barat. Dengan demikian, pada 15 Agustus 1962 di New York, PBB menyetujui terkait penyerahan Irian Barat oleh Belanda terhadap Indonesia, persetujuan itu berujung pada kedaulatan Irian Barat diserahkan ke pangkuan NKRI pada 1 Mei 1963.

Komodor Yos Sudarso beserta KRI Macan Tutul diistilahkan tenggelam secara "Brave and Gentlemen". Untuk mengenang jasa atas pengorbanannya pada pertempuran laut Arafuru, kini nama dari Komodor Yos Sudarso telah diangkat statusnya sebagai pahlawan nasional sekaligus namanya digunakan sebagai armada laut, yakni KRI Yos Sudarso 353, monumen di Surabaya dan Salatiga, hingga namanya dijadikan nama pulau di kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kini peristiwa pertempuran laut Arafuru diperingati sebagai "Hari Dharma Samudera" oleh keluarga besar TNI Angkatan Laut untuk mengenang patriotisme pertempuran laut yang pernah terjadi di Republik Indonesia.

Sumber :

Youtube (Dinas Penerangan Angkatan Laut)

Drs. Moh. Oemar, "Laksda TNI AL (Anumerta) Yos Sudarso", 30 Maret 1982 

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA