Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tolong Jangan Dibaca

Gambar oleh Francescoch, diunduh melalui istock.com

Penulis: Mahbub Junaidi (Ketua Bidang Organisasi Koordinator Komisariat IMM UINSA)


Berkenalan dengan filsafat, penulis yakin bahwasannya hari ini ketika diajak untuk berbicara filsafat paradigma yang muncul 90% adalah jawaban enggan. Hal ini sering kali ditemukan dengan alasan filsafat itu berat, bahasanya rumit sehingga sulit dimengerti, kata-katanya asing, hingga filsafat itu menyesatkan. Tidak heran pandangan-pandangan itu muncul, sebab kemungkinan memang siklus itu yang terbangun saat ini sehingga seakan-akan filsafat itu sulit untuk dipahami. Padahal ketika kita mau membaca dan mencari referensi yang mudah untuk belajar filsafat amat sangat banyak, tinggal apakah kita mau menanggalkan pikiran itu atau sedikit terbuka dan mau belajar filsafat.

Tapi perlu diketahui bahwasannya tulisan ini bukan untuk mengajak para pembaca berfilsafat atau belajar filsafat. Tulisan ini dibuat untuk diri penulis sendiri agar dapat mengikat seperempat tetes ilmu yang dimilikinya (itupun jika ada). Jadi, jangan khawatir apabila para pembaca tidak mau membaca tulisan ini, sebab latar belakang tulisan ini muncul hanya sebatas pengikat atau refleksi dari penulis.

Keingintahuan yang disebut juga dengan “koriositas” merupakan acuan bagi penulis agar dapat melangkah lebih jauh, bukan karena kesombongan atau pamer. Sebab pada dasarnya ilmu itu ibarat udara, ia begitu banyak di sekeliling kita, kita bisa mendapatkannya dimanapun dan kapanpun (Sokrates). Untuk mendapatkannya tentu tidak serta-merta layaknya menghirup udara sebagai rutinitas bertahan hidup, namun perlu adanya keinginan yang besar untuk merasa ingin tahu hal-hal yang ada di sekeliling kita. Apalagi hari ini sangat mudah mengakses informasi melalui handphone yang kita genggam, sehingga tidak ada alasan kiranya untuk tidak tahu dan sulit mencari tahu.

Jika dibandingkan dengan ribuan tahun yang lalu, yaitu sebelum adanya teknologi tepatnya sebelum eranya sokrates sangat berbeda 180 derajat layaknya langit dan bumi. Yaitu di mana eranya Thales yang muncul sebagai orang yang dikenal pertama dengan pendobrak pikiran mitologi dan diubah ke arah rasional sentris yang berpusat pada akal. Peralihan ini tentunya bukan serta merta karena sebab yang tidak jelas, melainkan hal ini dilatarbelakangi oleh rasa ingin tahu dan terlepas dari pikiran yang supralogis atau mistik.

Walapun pemikiran Thales ini masih dianggap sebagai dugaan dan cenderung mengada-ada, namun hasil yang dilahirkan memiliki efek yang luar biasa. Pertumbuhan pemikiran yang beracuan pada akal atau logika membuahkan hasil yang dapat diterima dan dibuktikan secara nyata (empiris). Hal itu pula yang salah satunya dapat memperkuat keyakinan seseorang terhadap sesuatu. Dampak yang dapat dirasakan hari ini adalah berkaitan pula dengan kemajuan zaman yang ditandai salah satunya dengan perkembangan teknologi.

Saya kira para pembaca sudah tau mengenai pemikiran Thales tentang kosmosentri (ilmu yang mempelajaran tentang alam semesta). Pemikiran itu ditandai oleh sebuah pertanyaan tentang asal mula alam semesta, dari mana asal muasal alam semesta muncul? Penulis yakin bilamana pertanyaan ini diajukan kepada kita, maka jawaban yang akan kita berikan bersifat supralogis atau mistik, sebab memang itu yang ditanamkan kepada diri kita sejak kecil. Sehingga hemat penulis tidak ada salahnya bagi kita untuk mempertanyakan itu semua secara logis. Hal ini dilakukan hanya sebatas untuk menambah pengetahuan dan mencoba sedikit terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

 Terkadang ingin tahu dan mempertanyakan sesuatu itu merupakan hal yang sangat menyenangkan loh, memunculkan banyak hal yang abstrak dan terkadang konyol juga untuk dipikirkan. Sehingga tidak ada salahnya untuk dilakukan, itung-itung menghibur diri sendiri di tengah kesepian (wkwkwkwk). Salah satu contoh yang penulis berikan adalah: kenapa sih hidung kok menghadap ke bawah? Gimana kalo ke atas aja? Kenapa sih roda rata-rata kok warnanya hitam? Atau apa yang memunculkan gaya gravitasi? Kenapa sih kita harus aktif di IMM? Eh kok malah jadi serius. Oke, pada intinya rasa ingin tahu membuat kita bahagia, pun pula terkadang membuat kita gelisah tergantung apa yang kita kepoin (maaf sedikit blunder).

Eh, semakin kesini kalimatnya kok semakin nggak baku ya (wkwkwk), kembali lagi ke setelan pabrik.

 Pada intinya keingintahuan seseorang merupakan sebuah kunci untuk langkah yang lebih besar. Dari keingintahuan tersebut tentunya akan diupayakan untuk menjawabnya, dan dari usaha menjawabnya hingga menemukan jawaban akan ditemukannya sebuah pelajaran yang tidak dibayangkan sebelumnya. Dari sana lah kekayaan ilmu akan menghiasi setiap langkah menuju tujuan yang telah direncanakan.

 Mengeluh? Semua perjuangan tidak ada yang menyenangkan. Berbagai jalan sepi harus ditempuh untuk menjadi nomor satu. Sebagaimana memakan nasi yang harus dikunyah agar tidak tersedak, seperti oksigen yang harus melewati hidung untuk disaring dan masuk ke paru-paru sebagai pertahanan kehidupan. Tidak ada yang instan untuk menuju ke arah kejayaan. Maka salah satu usaha yang dapat dilakukan dengan rasa keingintahuan dan mencari jawaban untuk mewujudkan tujuan yang dicita-citakan.

 Tulisan ini hanya sebatas percikan keresahan atas kebodohan dan tamparan diri setelah mengetahui luasnya lautan yang ditemui dan tingginya gunung yang masih sulit untuk disetapaki. Setidaknya penulis dapat meluapkan keresahannya sebagai bentuk sakit hati yang sedang dialami dan mencoba belajar dari 0 lagi.

Oleh aku, dariku, dan untukku.

 


Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA