Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rasa yang Sama

Gambar oleh powerofforever, diunduh melalui istockphoto.com

Penulis: Fatin Azmi Fauziyah (Kader PK IMM Ushuluddin dan Filsafat)


Nadira diam termenung sambil memeluk lutut. Pandangannya terus menatap pada satu objek yang tergantung di dinding kamar –kalender- sejak beberapa menit yang lalu. Fokusnya tidak teralihkan saat pikirannya tengah berkelana jauh mencari apa yang menggusarkan hatinya. Nadira gelisah. Sejak ia menyadari bahwa besok adalah momen yang istimewa. 

Gadis kecil itu tersentak pelan ketika mendengar seseorang membuka pintu rumah. Ia segera bangkit dan berlari keluar kamar. Ternyata sang Bunda yang datang, baru pulang setelah bekerja. 

“Selamat datang, Bunda.”ucap Nadira sambil memeluk wanita paruh baya itu dari belakang.

“Halo, sayang. Ngapain aja di rumah? “ Sang Bunda berdiri sambil menggendong anaknya lalu duduk di sebuah kursi. Memangku Nadira yang kini menghadap padanya.

“Tadi Nadira menggambar dan mewarnai. “

“Wah, benarkah? Mana gambarnya? Coba Bunda lihat, boleh?” Nadira mengangguk beberapa kali lalu berlari ke kamar untuk mengambil buku gambarnya, menunjukkan hasil karyanya pada sang Bunda.

“Bagus banget gambarnya, Nak. Pinter banget anaknya Bunda menggambar. Mau dapat hadiah dari Bunda?”

Kedua mata Nadira langsung berbinar cerah mendengar hal itu. Ia pun mengangguk cepat dengan mantap lalu melompat kegirangan. “Mau, mau, mau hadiah! Mau dapat hadiah dari Bunda! Hadiahnya apa, Bun?”

Sang Bunda nampak berpikir sesaat. “Hmm.., besok aja deh, Bunda kasih hadiahnya. Tunggu besok ya, sayang.” 

“Oke siap, Bunda. Terima kasih, Bunda. Nadira sayang Bunda.”

“Bunda sayang Nadira juga.”

****

Bel pulang sekolah berbunyi keras. Anak-anak yang telah selesai dari waktu sekolahnya lari berhamburan keluar kelas untuk menemui orang tua mereka yang telah siap menunggu di depan gerbang. Melepas penat dan kerinduan sembari menuangkan rangkaian cerita yang tiada habisnya. Tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban. Memberi semangat dan kehangatan cinta yang tumpah ruah sebagai sumber kebahagiaan terbesar bagi para orang tua. 

Nadira berlari cepat. Menembus kerumunan siswa lainnya dengan mudah hingga ia berhasil sampai di depan sekolah. Kaki kecilnya yang terus bergerak cepat berlari melewati barisan para orang tua yang menjemput anaknya. Tapi tidak ada yang menjemput Nadira. 

Bundanya sebagai orang tua tunggal sibuk bekerja untuk menghidupi kebutuhan. Dan Ia sebagai anak satu-satunya juga tidak merasa keberatan akan hal itu. Nadira mengerti keadaan sang Bunda, dan ia merasa bangga. 

Hari ini Nadira telah merencanakan sesuatu yang hebat dan luar biasa. Hari yang telah ia tunggu sejak kemarin, yang membuat hatinya gusar tanpa tenang, kini telah ia temukan jalan keluarnya. Gadis itu melepas sepatunya cepat dan masuk ke dalam rumah. Mengambil sebuah kertas dengan gambar berwarna yang sudah disiapkan sejak kemarin. Lalu kembali berlari keluar rumah tanpa mengganti seragamnya. 

Nadira berlari menyusuri jalan dengan tergesa. Beberapa kali ia sempat limbung dan akan terjatuh karena lelah, namun tetap melanjutkan larinya. Nadira berencana untuk menemui Bunda di tempat bekerja, memberinya kejutan kecil yang akan membuat haru dan tersenyum senang. Lalu memeluknya erat sambil merapalkan beribu kata cinta tulus yang mendebarkan. 

Membayangkan semua hal itu –yang mungkin akan jadi kenyataan- membuat Nadira tidak bisa menyembunyikan raut bahagia dan melunturkan senyumnya. Hingga tidak sadar, kakinya berlari semakin kencang, temponya semakin cepat, dirinya seakan memiliki kekuatan super untuk menembus arah angin yang menerpa kuat wajahnya. 

“Bunda.., hampir sampai. Sedikit lagi…, tunggu Nadira…, Bun.. –“

BRAAKK!!!

Kejadiannya begitu cepat. Sedetik yang lalu, Nadira masih menembus angin dengan kedua kakinya yang berlari cepat. Namun kini, tubuhnya sudah tergeletak di samping pembatas jalan. Pusing, Nadira merasa ada sesuatu yang mengalir deras di pelipisnya, melewati antara hidung dan mulut, dan tercetak jelas pada aspal kasar.

Mati rasa, Nadira tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Terasa sulit dan kaku untuk di gerakkan. Dalam pandangannya yang mengabur, Nadira mencari sosok Bunda di antara sekian banyak orang disana. Ia tidak bisa mendengar apapun. Nafasnya terputus-putus, dan ia berucap lirih. Sangat lirih, hingga dirinya tidak yakin bisa mendengar hal itu. Mulutnya bergerak untuk mengucap satu kata yang Ia rindukan.

Demi Tuhan, dimana Bunda? Kenapa banyak sekali manusia disana, namun tidak ada Bunda? Nadira memejamkan matanya perlahan dan setetes cairan mengalir. Ia menangis. Ia ingin memeluk Bunda, mengucapkan selamat hari Bunda sambil tersenyum dan menunjukkan gambarannya, memberikan hadiah yang ia persiapkan, dan mendengar ribuan kata cinta itu. 

Nadira hanya ingin melihat Bunda.

****

Lima belas menit berlalu. Dan Bunda masih tetap disana. Duduk memeluk gundukan tanah dengan taburan bunga segar. Air matanya yang mengering meninggalkan jejak pada wajah murungnya. Bunda terlalu lama menangis, terlalu kuat menumpahkan emosi dan kesedihannya, terlalu hancur atas kehilangan. Hingga begitu pedih rasanya untuk mengadu pada sang pemilik takdir. 

Bunda bangkit perlahan, mengusap papan nisan itu ke sekian kalinya, berucap lirih dengan sisa tenaga yang ia punya. 

“Bunda sayang Nadira.., sayaangg banget… tapi Tuhan lebih sayang Nadira dari Bunda. Nadira lebih aman sekarang disana, Bunda bisa jaga diri disini. Nanti, kalau sudah waktunya, Bunda nyusul kesana juga. Oke? “

Bunda mengusap permukaan gundukan tanah itu perlahan. Melanjutkan ucapannya. “Bunda suka hadiahnya, cantik sekali. Makasih, sayang. Bunda juga suka gambarannya, hasil gambaranmu selalu hebat, gak pernah gagal. Bunda bangga sama Nadira. “

Bunda kembali terisak pelan. Ia menunduk, berusaha meredam suaranya dengan bahu bergetar hebat. “Bunda pasti sering kangen Nadira. Kalau Bunda sering datang, gapapa kan, sayang? Bunda pengen cerita, pengen istirahat, pengen peluk anak Bunda. “

Ucapan Bunda terputus sesaat. Tangannya terangkat untuk mengusap papan nisan itu lagi. “Sampai kapapun, kamu selalu jadi anak Bunda. Bunda sayang Nadira.” 

Bunda mengecup papan nisan itu lama, dengan air mata yang berderai deras. 

****

Pedih sekali, Tuhan. Satu-satunya kebahagiaan yang ia punya telah kembali pada-Mu. Sanggupkah seorang ibu melanjutkan hidupnya dengan baik setelah kehilangan anak semata wayangya, keluarga terakhir yang ia punya? 

Sering kali, kita tidak begitu memperhatikan mereka dengan baik, -orang tua yang kehilangan anaknya- dan beranggapan bahwa mereka bisa melanjutkan hidup, sambil terus menyimpan luka dan kesedihan itu sepanjang sisa waktunya.

Jika ada sebutan bagi seorang anak yang kehilangan orang tuanya, mengapa tidak ada sebutan untuk orangtua yang kehilangan anaknya? Bukankah mereka sama-sama terluka dan kehilangan? 



Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA