Perempuan-Perempuan Terus Tidurlah dalam Kegelapan Sampai Ayahmu Menjemput Pulang

Gambar oleh AlonzoDesign, diunduh melalui istockphoto.com
Penulis: Fariz Zakariya Fauzan (Sekretaris Bidang RPK PK IMM Ushuluddin dan Filsafat)
Di bawah langit penuh polusi, terlihat seorang perempuan menyendiri duduk termenung dengan tatapan kosong. Kemudian, tak lama datanglah seseorang dengan pakaian serba putih dengan sorban di kepalanya sembari berkata “Sudahlah jangan terlalu dipikir, percayalah Tuhan akan memasukkan engkau kedalam surganya kelak asal engkau ikuti perintahku.” Diam seribu bahasa, entah harus berbuat apa padahal hatinya telah gelisah namun surga telah dijanjikannya.
Tak lama setelah itu mual yang dirasa, entah apa yang telah terjadi padanya yang jelas ia menangis di pojokan kamarnya sembari memegang test pack bergaris dua. Mulut tak bisa lagi bersuara, ia diam dalam ketakutan, ingin sekali berbicara namun lelaki baju putih dengan sorban di atas kepalanya itu mengancam dengan busung dadanya.
Dua puluh tahun kemudian, ia telah menjadi seorang ibu kemudian ia baru bercerita bahwa seorang lelaki berbaju putih telah menghancurkan hidupnya, namun naasnya lelaki itu semakin kuat dan suara wanita itu tak terdengar dalam telinga.
Itulah yang terjadi sekarang, jika dilihat dari banyaknya populasi wanita hanya sedikit yang berani bersuara atas keadilan gender mereka. Alasannya adalah takut, sekali lagi “takut”. Mengapa saya mengatakan demikian? karena perempuan sering dipandang sebagai “alat” bukan manusia.
Gender, Feminisme, Patriarkisme, Matriarkisme? Tidak Ingin Tahu Definisi Apalagi Teori
"Aku ingin dapat suami yang tidak patriarki, kaya raya, mengurusi rumah tangga," begitulah kata perempuan yang tertidur pulas dalam ranjang cantiknya. Tidak disadari hal demikian justru menciptakan matriarkisme bukan keadilan gender. Maka saya akan sedikit membahas definisi dan teori tentang keadilan gender.
Istilah gender, feminisme, dan patriarki bukan sekadar konsep akademik yang jauh dari realitas. Justru melalui konsep-konsep itulah kita dapat membaca pengalaman perempuan yang selama ini terbungkam. Seperti yang dijelaskan oleh sosiolog Ann Oakley, gender adalah konstruksi sosial artinya ketidakadilan yang dialami perempuan bukan kodrat, melainkan hasil bentukan sistem (Ann Oakley, 1985).
Dalam kerangka ini, feminisme hadir, sebagaimana dikatakan Bell Hooks, sebagai upaya mengakhiri penindasan, terutama pada perempuan (Bell Hooks, 2000). Sementara itu, patriarki bekerja secara halus maupun terang-terangan dalam mengontrol tubuh dan suara perempuan, sebagaimana dianalisis oleh sosiolog Sylvia Walby, namun hal ini juga bisa berbalik dan itulah yang dinamakan Matriarkisme (Sylvia Walby, 1990).
Jadi dalam strutur masyarakat sosial, perempuan seharusnya tidak takut dalam bertindak. Ketahuilah gender antara laki-laki dan perempuan itu sama, baik dalam agama, sosial mapun akademik. Berhentilah tidur dalam kegelapan, bangunlah dengan keberanian.
Begitu juga dengan otoritas yang memanfaatkan perempuan sebagai alat. Sampai kapan hal ini terjadi? Sampai kiamat? Jangan sampai! Beginilah wujud teori relasa kuasa Michel Foucault. Di mana pihak yang memiliki otoritas bertindak mendominasi kelas di bawahnya, dalam konteks ini ialah perempuan.
Bangun Menuju Pembebasan
Sedikit saya menyinggung definisi dan teori di atas, namun kebingungan atas langkah berikutnya masih menyelimuti pikiran dan hati kita. Saya teringat Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Siti Musdah Mulia yang menawarkan cara untuk melawan otoritas yang menjadikan perempuan sebagai "alat".
Baginya untuk melawan hal tersebut salah satunya dengan agama, karena agama jika dipahami secara komprehensif dan penghayatan, maka akan menjadi sumber kebebasan, keadilan bukan pembungkaman apalagi dengan modus janji ukhrawi.
Tiga langkah penting yang perlu dilakukan yaitu: Pertama, berani mengusut dan mengorek otoritas yang kerjanya gelap dan tidak transparan entah dalam janji manis ataupun pengelabuhan lainnya. Kedua, memberikan ruang seluas-luasnya buat suara perempuan. Ketiga, menolak habis-habisan pengunalaan nilai agama untuk menjustifikasi tindakan sewenang-wenang.
Namun apakah dengan hal tersebut perempuan bisa berdaya dan menjadi setara dalam struktur masyarakat? Jawabannya adalah belum tentu. Oleh karena itu saya menulis ini bukan hanya satu episode saja, mungkin bisa jadi beberapa episode.
Ingatlah perempuan-perempuan, jagalah dirimu sendiri melalui kualitas dan kapasitas diri. Tak perlu menunggu satu, sepuluh, hingga dua puluh tahun ke depan untuk bersuara. Mulailah dari sekarang. Ingatlah, ayahmu tidak lagi selalu menjemputmu seperti engaku kecil pulang dari sekolah.
Editor: Iskandar Dzulkarnain