Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hierarki Kebutuhan di Malam Jumat

Gambar dibuat oleh Artificial Intelligence
Penulis: Ahmad Muharrik Albirra (Ketua Bidang RPK PK IMM Leviathan

Malam Jumat di rumah ikatan sering menjadi ruang untuk mencari alasan berkumpul. Di satu sisi, sekretariat dipenuhi urusan rapat dan agenda komisariat, tetapi di sisi lain beberapa dari kami justru sibuk mencari kegiatan untuk mengusir rasa jenuh. Pada suasana seperti itulah seorang senior yang sejak lama dikenal sebagai pegiat literasi tiba-tiba datang.

Tanpa direncanakan, obrolan kami mengalir pada satu topik yang sedang memenuhi pikiran menjelang agenda perkaderan tiga minggu lagi: pemetaan kader. Bagaimana idealnya membaca tiap kader? Apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Dan bagaimana komisariat dapat memfasilitasi itu tanpa keluar dari koridor ikatan?

Beliau lalu mengajak kami melihat kembali teori klasik Abraham Maslow tentang hierarki kebutuhan. Bagi kami ini bukan hal baru, teori itu menjadi semacam peta ulang, sebuah cara membaca kader dengan lebih manusiawi. Maslow memulai dengan kebutuhan paling dasar: makanan, istirahat, dan kondisi hidup sederhana yang layak.

Kami langsung saling pandang ketika topik ini dibahas karena kami pun mengalaminya. Banyak kader datang dari latar belakang ekonomi yang tidak selalu stabil, tetapi berjuang mempertahankan idealisme di tengah tekanan hidup harian. Lantas apakah kita harus memberi makan semua kader, sementara kita sendiri kadang bingung besok hendak makan apa?

Setidaknya kita bisa menyediakan akses informasi, ruang berbagi tips bertahan hidup, dan lingkar solidaritas agar tidak ada kader merasa menanggung beban seorang diri. Menurut beliau, kesamaan pengalaman inilah yang membuat proses kaderisasi menjadi lebih efektif karena kita memahami beban yang sama, keresahan yang sama, dan perjuangan yang serupa.

Setelah kebutuhan fisik, kebutuhan akan rasa aman menjadi pembahasan berikutnya. Bukan hanya aman secara fisik, tetapi juga aman secara lingkungan, suasana, dan interaksi sosial. Senior kami bercerita bahwa beberapa immawati sering merasa ragu berada di sekretariat karena suasana yang terlalu bising, terlalu maskulin, atau terlalu formal.

Beliau menyebut bahwa rasa aman tidak selalu dibangun dari hal-hal yang rumit tapi justru hadir dari hal-hal kecil seperti ruang yang lebih tertata, interaksi yang lebih hangat, atau bahkan perkaderan kultural yang diadakan di luar sekretariat. Intinya sederhana: kader akan bertahan jika mereka merasa diterima.

Ketika pembicaraan bergerak pada kebutuhan sosial, Maslow menyebut rasa memiliki dan diterima. Senior kami justru menyederhanakannya menjadi satu kata yang tampak biasa tetapi bermakna besar: persahabatan. Beliau memberi contoh seorang kader yang kami kenal dekat, yang bermimpi menjadi pengusaha.

Namun mimpi itu tidak akan tumbuh jika lingkar sosialnya tidak mendukung. Pemetaan kader berarti mengetahui siapa teman-temannya, ekosistem apa yang membentuknya, dan jaringan mana yang perlu dibangun agar tujuan itu berkembang. Persahabatan di ikatan bukan sekadar pertemanan, tetapi bagian dari strategi pembinaan.

Pembahasan kemudian bergeser pada penghargaan. Kami menyadari bahwa realitas di ikatan akhir-akhir ini menunjukkan adanya ruang apresiasi yang semakin baik. Kader yang berprestasi mulai dikenali, dipuji, dan diberi ruang untuk berbicara maupun belajar.

Ada perubahan kecil tetapi berarti. Ikatan mulai belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Tidak besar memang, tetapi cukup memberi rasa dilihat dan itu menjadi modal penting untuk membangun budaya kaderisasi yang sehat.

Akhirnya obrolan sampai pada aktualisasi diri, titik paling atas dalam hierarki kebutuhan Maslow. Di sini justru kami yang bertanya: apakah semua tingkatan itu harus dilalui secara berurutan?

Beliau menjelaskan bahwa meskipun Maslow menyusun kebutuhan secara hierarkis, penelitian modern menunjukkan bahwa manusia sering memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus. Yang penting adalah bagaimana pemetaan kader dilakukan agar setiap orang tahu arah yang ingin dituju, bahkan sebelum mereka mencapai titik ideal dalam hidupnya.

Malam itu berakhir tanpa kesimpulan besar, tetapi membawa banyak pemahaman baru. Bahwa memetakan kader bukan soal menempatkan siapa di mana, tetapi memahami di level kebutuhan apa seseorang sedang berdiri.

Dan sebelum sibuk memetakan orang lain, kita perlu berani menjawab dengan jujur: sebenarnya kita sendiri sedang berada di level kebutuhan yang mana?


Editor: Iskandar Dzulkarnain

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA