Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca itu Bodoh!

Gambah diunduh oleh Artificial Intellegence

Penulis: Thariq Afdhala (Sekretaris Bidang HPKP PK IMM Avempace)


Di masa yang serba cepat ini, banyak orang-orang yang mulai tidak aktif untuk membaca. Bisa kita lihat, ada orang yang sedang membaca sebuah tulisan baik itu dari buku maupun web online menjadi sebuah perhatian di khalayak umum. Padahal itu harus menjadi sebuah kebiasaan dan aktivitas sehari-hari yang perlu dilakukan. Sebab tanpa membaca, ilmu pengetahuan kita tentang dunia maupun setelah kematian terbatas serta otak kita tidak bekerja dengan baik.

Membaca bukan sekedar melihat tulisan di atas kertas saja. Ada proses berpikir di dalam otak melalui rangsangan sel-sel otak. Melalui membaca kita bisa mengetahui pemikiran-permikiran orang lain sehingga adanya pembentukan pro dan kontra tentang suatu pengatahuan yang dibaca. Tidak hanya itu aja, membaca membuat daya cipta bertumbuh dan meningkatkan perbendaharaan kata (Safira, dkk., 2024).

Dalam menerima informasi, kebiasaan membaca berpengaruh terhadap bagaimana cara menanggapi sebuah informasi. Jika kita sering membaca, kita tidak akan menerima informasi begitu saja. Kita akan kritis dan mencari sudut pandang lain dalam mendalami informasi tersebut. 

Pada zaman yang serba cepat menerima informasi, kemampuan tersebut sangat berguna agar kita tidak mudah untuk dipengaruhi oleh informasi-informasi yang tersebar luas di media sosial. Hal ini mencegah kita dalam mengkonsumsi informasi secara mentah-mentah dan tidak skeptis dalam menerima informasi.

Dampak positif membaca membuktikan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya melihat coretan di atas kertas saja. Tapi juga membangun cara berfikir kritis dan kreatif. Ini akan berdampak pada kehidupan sosial, yang mana kita lebih bijak dalam bertindak, bisa menyelesaikan masalah dengan menemukan solusi yang tepat, dan ilmu pengetahuan yang di dapat dalam membaca bisa dirasakan kebermanfaatnya melalui tindakan kita.

Jarang sekali kita lihat usaha seorang individu untuk membaca. Butuh lingkungan yang suportif seperti disuruh untuk mengerjakan tugas atau program kerja sebuah organisasi yang mendorong kegiatan membaca. Tujuannya untuk menumbuhkan minat membaca individu-individu walaupun dalam waktu yang singkat. 

Namun, dorongan eksternal seperti contoh di atas tidak cukup. Karena tidak semua orang memiliki lingkungan yang suportif. Karena itu kita juga butuh motivasi internal pribadi untuk menumbuhkan minat membaca. Adanya motivasi pribadi juga dapat menumbuhkan kosistennsi dalam membaca tanpa perlu menghadirkan dorongan eksternal. 

Pemaparan di atas membuktikan bahwa membaca bukan suatu pekerjaan yang membuat orang bodoh. Namun, membuat seseorang lebih teliti dalam menerima informasi, lebih bijak dalam menyelesaikan masalah, dan sabar dalam mengambil keputusan. Adanya anggapan bahwa membaca itu bodoh, penulis telusuri bahwa semakin sedikitnya orang-orang dalam membaca. 

Merujuk pada laman Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional tahun 2024 mencapai angka 73,52. Meski angka tersebut mengalami kenaikan yang lumayan tinggi, akan tetapi jika dibandingkan dengan negara tetangga angka tersebut masih cukup rendah. Misal Malaysia dengan skor 95,71% dan Singapura dengan skor 98 (perpusnas.go.id). 

Perlu ada perubahan anggapan dari membaca itu bodoh, menjadi membaca itu cerdas. Jika dibiarkan, hal tersebut orang-orang akan kurang bersemangat dalam membaca. Alhasil kebiasaan membaca atau kegemaran membaca menjadi turun drastis.

Membaca membuat kita menjadi pribadi yang baik dan bijak. Perlu adanya niat dalam diri sendiri agar kosisten dalam membaca dan tidak bermalas-malasan dalam membaca. Dampak positif ini harus kita upayakan agar bisa dirasakan baik dari diri kita lalu berangsur ke orang sekitar kita. Agar kegiatan yang sangat produktif ini bisa dianggap menjadi hal yang berkemajuan dan mencerdaskan.


Editor: Iskandar Dzulkarnain
Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA