Al-‘Aṣr Dibaca, Tapi Waktu Masih Ditawar
![]() |
| Gambar dibuat oleh Gemini |
Penulis: Nasywa Athirah Nathania Zahra (Ketua Bidang RPK PK IMM Al-Kindi)
Waktu sering datang tanpa suara. Ia berjalan pelan, tidak memaksa, tidak menegur. Tapi justru dari caranya yang diam itu, kita bisa tahu: apakah kita menghargainya atau sekadar membiarkannya lewat.
Dalam Surat al-‘Aṣr, Allah bersumpah atas nama waktu. Seolah mengingatkan bahwa waktu bukan cuma soal jam dan menit, tapi amanah yang dititipkan dan harus dijaga.
Setiap kegiatan dalam organisasi, seperti dalam komisariat atau IMM secara umum, tentu memiliki niat dan tujuan yang baik: berkumpul, berdiskusi, dan merumuskan arah gerakan bersama. Namun niat dan tujuan baik itu selalu berjalan beriringan dengan satu sikap yang mencederainya, yaitu manajemen waktu.
Cara kita mengelolanya sering kali mencerminkan seberapa sungguh-sungguh kita memaknai proses kaderisasi dan dinamika organisasi. Dalam praktiknya, persoalan waktu sering dianggap sepele. Keterlambatan hadir dalam forum, molornya agenda, atau menunggu peserta tanpa kepastian kerap dimaklumi atas nama kebersamaan.
Padahal kebiasaan itu perlahan membentuk budaya organisasi yang tidak sehat. Waktu tidak lagi dipandang sebagai amanah bersama, melainkan sekadar sesuatu yang bisa ditawar dan digadai. Jika dibiarkan, hal ini bukan hanya mengganggu efektivitas kegiatan, tetapi juga mencerminkan lemahnya kesadaran kolektif dalam menghargai proses.
Al-‘Aṣr mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, bukan karena tidak memiliki waktu, melainkan karena tidak benar-benar kita manfaatkan. Allah tidak bersumpah dengan sesuatu yang remeh. Ketika waktu dijadikan sumpah dalam Al-‘Aṣr, hal itu menandakan betapa sentralnya peran waktu dalam kehidupan manusia.
Waktu adalah modal yang sama bagi setiap orang, namun hasilnya berbeda tergantung bagaimana dikelola serta dimanfaatkan. Dalam konteks organisasi, waktu bukan hanya milik individu, melainkan milik jamaah. Ketika satu orang lalai, dampaknya dirasakan bersama. Inilah mengapa pengelolaan waktu sejatinya bukan sekadar soal teknis, tetapi juga persoalan etika dan tanggung jawab kolektif.
Dalam kegiatan berjamaah, hal ini kerap terasa: rencana telah disusun, undangan telah disampaikan, dan agenda telah dipersiapkan. Namun pelaksanaannya tidak selalu berjalan seiring harapan. Waktu berlalu lebih lama dari yang direncanakan, kehadiran tak selalu seimbang, dan sebagian energi justru habis untuk menunggu sebelum kegiatan benar-benar dimulai.
Kerugian itu tidak selalu tampak besar, tetapi perlahan dampaknya nyata dan berkelanjutan. Waktu kader terpakai, semangat perlahan berkurang, dan ruang diskusi menjadi tidak seutuh yang dicita-citakan. Jika kebiasaan semacam ini terus dinormalisasi, bukan tidak mungkin nilai-nilai dasar perkaderan, seperti disiplin, tanggung jawab, dan saling menghargai pun ikut terkikis tanpa kita sadari.
Surat Al-‘Aṣr tidak menuntut kita menjadi serba cepat. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak merugi. Beriman, bergerak, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran—termasuk sabar dalam proses dan benar dalam menghargai waktu yang telah disepakati bersama.
Sesederhana belajar datang tepat waktu, agar al-‘Aṣr tidak lagi dibaca sebagai peringatan, tetapi sebagai cermin. Maka sebelum berbicara jauh tentang militansi kader dan gerakan perubahan, barangkali kita bisa mulai dari hal paling sederhana: menepati waktu yang sudah kita sepakati bersama.
Tahun 2026 yang kita butuhkan mungkin bukan janji besar atau target muluk. Tahun boleh berganti, tapi semoga kebiasaan lama tidak ikut diperpanjang. Sebab berbenah kadang tidak menuntut perubahan besar, cukup berhenti mengulang hal yang sama.
Sudah saatnya proses kaderisasi berjalan lebih rapi, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan agar kebiasaan yang selama ini berulang bisa kita perbaiki bersama. Perbaikan tidak selalu harus dimulai dari agenda besar atau perubahan struktural.
Disiplin hadir tepat waktu, menghormati kesepakatan forum, dan menjaga alur kegiatan agar tetap berjalan sesuai rencana adalah langkah kecil yang bermakna besar. Dari situlah nilai kaderisasi bekerja secara nyata bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam kebiasaan sehari-hari.
Editor: Iskandar Dzulkarnain
