Dari Korupsi Sistemik hingga Demokrasi Anti-Kritik, Prof. Ma'mun Murod Ingatkan Kader IMM Jaga Kesinambungan
![]() |
| Keynote Speech Prof Ma'mun Murod (Dokumentasi Internal) |
Penulis: Fariz Zakariya Fauzan (Ketua Bidang RPK PK IMM Ushuliddin dan Filsafat)
Surabaya,
25 April 2026, Rangkaian
Semarak Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-62 yang digelar di Gedung
Self Access Center (SAC) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya turut diwarnai dengan
refleksi tajam mengenai arah pergerakan mahasiswa masa kini.
Rektor
Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sekaligus Ketua Forum Keluarga Alumni
(FOKAL) IMM Nasional, Prof. Dr. Ma'mun Murod, M.Si., hadir sebagai keynote speech pada acara tersebut.
Dalam penyampaiannya,
ia secara jujur mengakui bahwa gerakan kemahasiswaan saat ini tengah mengalami
krisis identitas.
Prof.
Ma'mun kemudian bernostalgia menceritakan dinamika pergerakan pada eranya, di
mana aktivis memiliki garis perjuangan yang terang.
"Kalau
era sebelum Pak Harto turun, kami biasa melakukan demonstrasi, dan arah gerakan
kemahasiswaan masih jelas," ujarnya.
Menurutnya,
arah gerak mahasiswa saat ini telah berubah menjadi tidak jelas dan cenderung
pragmatis. Hal ini, kata dia, terjadi karena gerakan kemahasiswaan sudah
bertransformasi menjadi gerakan politik praktis yang terlalu dekat dengan
pusaran kekuasaan. Ia juga memperingatkan bahwa krisis serupa mulai merambah ke
lingkup mahasiswa Muhammadiyah, yang berakar dari godaan politik.
Selain
menyoroti krisis aktivisme, ia
juga melontarkan kritik keras terhadap sistem kenegaraan pasca reformasi, khususnya
terkait maraknya kasus korupsi. Ia mengibaratkan, jika jumlah koruptor yang
ditangkap masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki, hal tersebut masih
dalam batas kewajaran manusiawi.
"Tapi
masalahnya, sejak pasca-reformasi, ada puluhan bahkan ratusan orang yang
ditangkap. Hal ini menandakan rusaknya sistem kita," tegasnya.
Ia
pun mengingatkan pentingnya peran mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah.
"Demokrasi
itu harus bersanding dengan kritik. Jangan sampai ada demokrasi yang
anti-kritik," imbuhnya.
Di
tengah ancaman pragmatisme dan rusaknya sistem tersebut, Prof. Ma'mun
memberikan pesan khusus bagi keberlangsungan persyarikatan Muhammadiyah. Ia
berharap IMM dapat terus menjadi rahim pencetak pemimpin masa depan.
"Untuk
Muhammadiyah, agar bisa terus hidup, maka harus ada kesinambungan kader. Hal
ini bisa berjalan melalui IMM, khususnya yang berasal dari Perguruan Tinggi
Muhammadiyah," tutupnya.
