Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dukung IMM, UINSA Tekankan Pentingnya Organisasi di Tengah Krisis Aktivisme Mahasiswa

Dokumentasi Internal

Penulis: Ahmad Muharrik Albirra (Ketua Bidang RPK PK IMM Leviathan)


Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menegaskan pentingnya peran organisasi mahasiswa di tengah menurunnya minat aktivisme generasi muda. Dukungan tersebut disampaikan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. Abdul Muhid M.Si, dalam Resepsi Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-62 di Gedung Student Central UINSA, Sabtu (25/4/2026).

Dalam sambutannya, ia menilai organisasi kemahasiswaan, termasuk IMM, memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan kepemimpinan yang tidak dapat digantikan oleh aktivitas akademik semata.

“Kalau hanya mengandalkan akademik di kampus, tidak mungkin bisa melahirkan pemimpin besar. Organisasi adalah kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan, UINSA sebagai kampus inklusif membuka ruang seluas-luasnya bagi organisasi mahasiswa untuk berkembang, selama kegiatan yang dilakukan membawa kebaikan dan mengikuti prosedur yang berlaku.

“Kami mendukung penuh kegiatan mahasiswa. Selama itu untuk kebaikan, silakan dilakukan. UINSA adalah rumah besar bersama,” tegasnya.

Namun demikian, ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini, khususnya di era digital. Menurutnya, banyak mahasiswa cenderung kurang tertarik berorganisasi dan lebih memilih kenyamanan pribadi.

“Sekarang ini tantangannya berbeda. Mahasiswa cenderung malas berproses, lebih memilih hal-hal instan, bahkan untuk diajak berkegiatan saja sulit,” ungkapnya.

Fenomena tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari pengaruh budaya digital yang mendorong gaya hidup praktis dan instan. Kondisi itu berdampak pada menurunnya partisipasi mahasiswa dalam organisasi, termasuk dalam proses kaderisasi.

Selain itu, ia juga mengungkap meningkatnya persoalan psikologis di kalangan mahasiswa, seperti burnout akademik, yang turut menjadi tantangan bagi organisasi kemahasiswaan.

“Banyak mahasiswa mengalami tekanan akademik dan persoalan mental. Ini harus menjadi perhatian bersama, termasuk organisasi mahasiswa,” katanya.

Karena itu, ia mendorong IMM untuk mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi saat ini, sekaligus memperkuat peran sebagai organisasi kader yang tidak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga responsif terhadap persoalan mahasiswa.

Ia juga mengajak kolaborasi antara organisasi mahasiswa dengan pihak kampus, termasuk memanfaatkan fasilitas seperti pusat konseling, untuk menjawab tantangan tersebut secara bersama.

“Kami siap berkolaborasi. Organisasi mahasiswa harus hadir menjawab persoalan zaman, bukan justru ditinggalkan,” pungkasnya.

Editor Iskandar Dzulkarnai
n

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA