Hikayat Perkaderan dan Perjuangan, Wakil Ketua PWM Jatim Kenang Masa Sulit ketika di IMM UINSA
| Muh Khoirul Abduh Menyampaikan Sambutan (Dokumentasi Internal) |
Penulis: Ahmad Muharrik Albirra (Ketua Bidang RPK PK IMM Leviatan)
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Muh Khoirul Abduh S. Ag M. Si, membagikan kisah perjuangan masa mudanya saat aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Cerita tersebut disampaikan dalam rangkaian Semarak Milad IMM ke-62 di Self Access Center (SAC) UINSA, Sabtu (25/4/2026).
Dalam sambutannya, ia mengisahkan kerasnya proses perkaderan yang tidak hanya menguji intelektualitas, tetapi juga ketahanan finansial dan mental kader. Bahkan, ia mengaku pernah mengalami situasi sulit hingga harus bertahan tanpa biaya dalam menjalankan kegiatan organisasi.
“Saya pernah mengadakan kegiatan, tapi tidak ada dana sama sekali. Sampai akhirnya saya dijadikan jaminan oleh pihak hotel karena biaya kegiatan belum terbayar,” ujarnya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembentukan karakter kader IMM yang tidak hanya berpikir idealis, tetapi juga tangguh menghadapi realitas. Ia menegaskan bahwa kondisi serba terbatas justru melatih kreativitas dan daya juang kader.
Ia juga mengenang bagaimana saat menjadi mahasiswa, dirinya dan rekan-rekannya harus berjuang mencari dana secara mandiri, bahkan dengan cara yang tidak biasa. Dalam satu kesempatan, ia bercerita pernah menghadiri acara pernikahan orang yang tidak dikenal hanya untuk mendapatkan makan, sebagai bentuk bertahan di tengah keterbatasan.
“Dulu kita ini betul-betul ditempa. Tidak punya uang, tapi tetap jalan. Bahkan pernah datang ke acara orang hanya untuk makan. Itu realitas yang membentuk mental kami,” katanya.
Selain soal finansial, ia menyoroti pentingnya tradisi perkaderan sebagai kunci keberlanjutan organisasi. Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah dan IMM sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mentransformasikan kader secara berkelanjutan.
“Besar dan majunya Muhammadiyah ke depan itu tergantung dari perkaderannya. Kalau gagal dalam kaderisasi, maka masa depan organisasi juga terancam,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan adanya kecenderungan pergeseran nilai di kalangan generasi muda yang mulai mengutamakan kesuksesan material dibanding idealisme. Padahal, menurutnya, kekuatan utama kader IMM justru terletak pada integritas, intelektualitas, dan komitmen sosial.
“Sekarang dunia cenderung hedonistik. Banyak yang mengukur sukses dari materi, bukan dari idealisme. Ini yang harus kita lawan,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, ia berpesan kepada kader IMM untuk tetap menjaga tri kompetensi dasar yakni intelektual, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan sebagai fondasi utama dalam berproses di organisasi.
“Kalau tri kompetensi ini dijaga, maka kader IMM akan punya jati diri yang kuat dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya.
Kisah yang disampaikan tersebut menjadi
refleksi bahwa proses perkaderan IMM tidak lepas dari dinamika perjuangan,
termasuk keterbatasan ekonomi, yang justru membentuk karakter kader yang
tangguh dan berintegritas.
Editor: Fariz Zakariya Fauzan