Ketua DPP IMM Bidang Riset dan Teknologi Ungkap Tiga Krisis Gerakan IMM di Era Kontemporer
| Dokumentasi Internal |
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bidang Riset dan Teknologi, Muhammad Akmal Ahsan, menyoroti sejumlah persoalan kontemporer yang dihadapi IMM dalam Stadium Generale Semarak Milad IMM ke-62 di Self Access Center (SAC) UIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (25/4/2026).
Dalam pemaparannya, Akmal menyebut setidaknya terdapat tiga krisis utama yang tengah melanda gerakan IMM saat ini, yakni krisis ideologis, pergeseran orientasi gerakan, serta krisis kompetensi kader.
Ia menjelaskan, krisis pertama berkaitan dengan melemahnya pemaknaan nilai-nilai dasar IMM di kalangan kader. Kondisi ini membuat gerakan yang dijalankan kehilangan arah dan tidak lagi berpijak pada spirit organisasi.
“Kita ini jangan-jangan sedang mengalami krisis kesadaran. Bergerak, tapi tidak memaknai nilai-nilai IMM itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kader kerap terlibat dalam aktivitas organisasi tanpa memahami tujuan ideologis yang mendasarinya, sehingga gerakan menjadi tidak berdampak secara substantif.
Selain itu, ia juga menyoroti adanya pergeseran dari gerakan intelektual menuju dominasi gerakan politik di tubuh IMM. Ia menilai, orientasi yang terlalu politis telah menggeser fokus utama organisasi sebagai gerakan keilmuan, dakwah, dan sosial.
“Sekarang ini yang dominan justru gerakan politik. Padahal, basis utama IMM adalah gerakan intelektual dan dakwah,” katanya.
Akmal mencontohkan, dinamika di tingkat cabang kerap didominasi aktivitas politik internal, mulai dari kontestasi kepemimpinan hingga konsolidasi organisasi, yang menyita sebagian besar waktu kader.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti krisis kompetensi yang dialami kader. Menurutnya, banyak kader belum mampu mengenali dan mengembangkan potensi diri secara optimal, sehingga tidak memiliki keunggulan yang jelas.
“Kader-kader kita ini tidak tahu kompetensinya apa. Akibatnya, organisasi juga kesulitan mengakomodasi potensi yang beragam,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ketidaksesuaian antara potensi individu dan peran dalam organisasi menjadi salah satu faktor yang menghambat efektivitas gerakan kader di lapangan.
Dalam refleksinya, Akmal mengajak seluruh elemen IMM untuk melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari penguatan ideologi, penataan ulang orientasi gerakan, hingga pengembangan kapasitas kader yang lebih terarah.
“IMM perlu melakukan transformasi. Kembali pada nilai dasar, memperkuat intelektualitas, dan memastikan kader memiliki kompetensi yang jelas,” tegasnya.