Apakah Yang Membela Rakyat Harus Oposisi?
Penulis: Muhammad Alwy Zakariya (Ketua Bidang HPKP PK IMM Ushuludin dan Filsafat
Sebuah percakapan malam yang hangat diselimuti guyonan bersama kawan-kawan di sebuah kafe yang estetik dan murah meriah di Desa Api Wonocolo. Kami membahas bagaimana kondisi Negeri Konoha, bagaimana pergerakan mahasiswa hari ini, hingga membahas isu viral seorang mantan aktivis yang dianggap sebagai penghianat reformasi.
Uzumaki Batubara, sebutlah seperti itu. Kami sering berdiskusi mengenai kondisi mengenaskan negeri ini. Pemikirannya cukup progresif dalam melihat persoalan-persoalan. Namun, kendati demikian, dia adalah mahasiswa Hukum Tata Negara yang menurut saya berkewajiban secara moral untuk bersuara di tengah mengenaskannya negeri ini. Mungkin saya akan memukulnya jika dia tampak apatis saat melihat persoalan negeri ini.
Sebelum malam itu, dalam setiap perjumpaan, pembahasan mengenai bobroknya negara hampir selalu menjadi pembahasan kami. Penulis dengan latar belakang sedikit filsafat dan tafsir Al-Qur'an ini selalu antusias menyuarakan isu ketidakadilan di negeri Konoha ini.
Penulis di setiap harinya pikirannya telah dicekoki berita yang tidak menyenangkan mengenai pemerintah. Bayangkan seorang mahasiswa yang sudah pening memikirkan tugas, harus menerima berita mengenaskan seperti penggusuran, salah tangkap, dan MBG. Yang sebenarnya penulis sudah muak dengan berita-berita ini.
Penulis tidak hanya melihat headline berita, namun sampai membuka dokumen laporan-laporan NGO atau organisasi kemasyarakatan dalam beberapa isu. Kadang saat membuka laporan itu, air mata ini ingin mengalir begitu saja, padahal tidak ada yang mengelupas bawang di sana.
Penulis merasa bersuara itu penting, karena menurut penulis salah satu nilai yang dibawa oleh Al-Qur'an adalah keadilan. Bahkan, amar ma'ruf nahi munkar menjadi salah satu indikasi bagi umat Nabi Muhammad yang disebut Khairu Ummah, seperti yang difirmankan Allah dalam Ali Imran ayat 110.
Pertemuan malam demi malam menimbulkan dialektika yang menarik. Pasalnya, dalam diskusi, Uzumaki Batubara sering menempatkan posisi pada pihak pro pemerintah. Bahkan, di sela guyonan dia dengan bangga menyebut dirinya sebagai Pro Jokowi. Kalau bisa ditambahkan emot tertawa dalam tulisan ini, pasti sudah saya tambahkan.
Uzumaki Batubara sering mengkritik penulis karena menggunakan laporan media sebagai basis argumen untuk menyerangnya. Penulis sebenarnya tahu mungkin dia takut kalah karena penulis lebih banyak membaca berita tentang bobroknya pemerintah daripada dia. Namun, argumennya dapat dipahami karena menurutnya media tidak senetral yang kita bayangkan.
Penulis memahami keinginan Uzumaki Batubara untuk selalu objektif dalam melihat persoalan. Di sela-sela diskusi itu, Uciha Elbi yang berasal dari desa yang sama dengan penulis juga menambahi bahasan persoalan-persoalan Negeri Konoha ini, yang membuat pembahasan kami semakin lebar dan panjang.
Di lain malam, penulis juga berdiskusi dengan Rival Namikaze. Tentu saja dia bukan rival penulis, kendati namanya memanglah Rival. Dia adalah aktivis yang berjuang menjaga salah satu tempat peribadatan di Desa Api Wonocolo ini dari serangan hama-hama Negeri Konoha.
Kami sering membahas bagaimana rusaknya negeri ini karena praktik politik uang. Menurut pengalamannya, bahkan anak-anak SMP di Negeri Konoha ini sudah terpapar rusaknya sistem politik di negeri ini. Kita bisa bercermin, karena setiap menjelang pemilu ada ninja-ninja mirip Anbu yang mengirimkan serangan fajar ke rumah-rumah warga.
Di Negeri Konoha ini, penulis sangat geram akan lingkaran setan politik uang ini, di mana calon Hokage akan mengeluarkan banyak uang untuk pemilu. Lantas orang miskin/menengah akan menerima suap sebesar lima puluh ribu itu, kendati mereka memang membutuhkan uang tersebut untuk bertahan hidup. Dapat dipastikan bahwa suara rakyat Konoha ditentukan oleh mereka yang punya uang.
Lantas setelah mengeluarkan banyak uang untuk pemilu, Hokage di Konoha rata-rata akan menjalankan sebuah misi proyek untuk mengembalikan modal ketika pemilu. Bahkan, tidak jarang para Hokage mengorupsi uang rakyat. Akibatnya, rakyat tetap dalam kondisi miskin. Dan di pemilu berikutnya, merekalah sasaran manipulasi suara.
Jika ada Kaguya, mungkin penulis akan meminjam kekuatannya untuk menghancurkan sistem politik setan ini. Kembali pada malam itu di kafe yang estetik dan murah meriah, Uzumaki Batubara kembali menanyakan kepada penulis tentang salah satu aktivis pejuang reformasi yang kini telah menjadi pegawai Hokage.
Uzumaki Batubara menyayangkan adanya narasi bahwa mereka yang mendukung rakyat harus menjadi oposisi dan tidak boleh menjadi pegawai pemerintah. Uzumaki kembali menanyakan kepada penulis, apakah tidak boleh memperjuangkan rakyat dengan menjadi pegawai pemerintah?
Uzumaki Batubara mengingatkan bahwa perjuangan kita adalah warisan perjuangan Budiman pula. Memang kalau kita melihat secara jernih, Budiman dalam menjadi pegawai di Negeri Konoha tidak pernah menyelewengkan kuasanya, apalagi mengorupsi uang rakyat. Mungkin di situ Budiman sedang mempertahankan perjuangannya untuk rakyat, yakni dengan menjadi pejabat yang baik.
Namun, warga sipil melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ia melihat Budiman yang dulu adalah aktivis Konoha yang sering menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, namun setelah mendapatkan jatah kekuasaan ia tidak segetol dulu dalam memperjuangkan rakyat, bahkan lebih sering membela penguasa.
Penulis dalam hal ini tentu saja ingin menawarkan pula pandangannya, namun sebenarnya penulis sudah lelah membahas ini. Jika kita membaca Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis, kita digambarkan sebagai makhluk yang banyak kekurangannya, salah satunya adalah hipokrit.
Penulis tentu tidak melabeli Budiman sebagai hipokrit, namun ini menjadi refleksi bagi kita semua aktivis di Negeri Konoha yang menurut ninja senior kita, "Ada dua maksud orang yang ingin mengubah negara. Pertama, dia memang tulus ingin mengubahnya. Yang kedua, dia hanya ingin mencari panggung untuk mendapatkan nama." Dan apakah membela rakyat harus menjadi oposisi? Tentu saja semua kembali pada niat masing-masing, yang hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.
Editor: Fariz Zakariya Fauzan
