Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menuju 2045: Menyiapkan Arsitek Peradaban dari Rahim Darul Arqom Madya

Gambar dibuat Oleh AI

Penulis: Muhammad Alwy Zakariya (Ketua Bidang HPKP PK IMM Ushuludin dan Filsafat)


Malam itu, dinginnya ruang diskusi seakan tidak mampu membendung kehangatan gagasan yang terus meletup. Saya duduk di antara deretan kader terpilih, membawa amanah besar sebagai delegasi dari PC IMM Kota Surabaya. Kami berkumpul di Tangerang bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban formal organisasi, melainkan untuk sebuah misi yang jauh lebih besar yaitu dengan merumuskan arah baru gerakan.

Dalam perjalanan panjangnya, ikatan ini selalu diingatkan untuk berpijak pada Trilogi Gerakan. Nilai-nilai inilah yang semestinya menjadi kompas mutlak, yang diwujudkan nyata lewat Trikoda dan napas perjuangan sehari-hari. Belum lagi jika kita mengingat kembali memori Deklarasi Kota Barat di Solo, di mana 6 Penegasan dirumuskan untuk menyempurnakan falsafah pergerakan kita. Semua itu adalah modal awal yang luar biasa mewah.

Namun, jujur saja, dinamika zaman hari ini bergerak begitu cepat, bahkan terkadang terasa melompat. Realitas ini memaksa kita semua untuk berhenti sejenak, berefleksi, dan menata ulang strategi agar pergerakan ini tidak usang ditelan waktu, tanpa harus kehilangan identitas asli kita. Kita tidak bisa menutup mata bahwa hari ini gerakan kita sedang diuji oleh berbagai persoalan internal, mulai dari melemahnya militansi, pengikisan pemahaman ideologi, hingga kecenderungan gerakan yang terjebak pada ruang-ruang seremonial yang sayangnya kurang menyentuh akar rumput umat.

Persoalan ini terasa kian pelik ketika kita melihat potret mahasiswa secara umum. Generasi muda hari ini seolah sedang berada dalam fase kritis berupa melemahnya kesadaran kolektif terhadap isu-isu sosial dan kebangsaan. Apa yang dipotret oleh penelitian Wida Aprilianda dan kawan-kawan tentang apatisme mahasiswa dan masyarakat terhadap politik seakan menjadi tamparan keras. Ada kesan kuat bahwa sebagian dari kita memilih abai terhadap riuh rendahnya problem kebangsaan.

Fenomena kelam seperti apatisme sosial, krisis keteladanan, polarisasi identitas, hingga degradasi moral seolah menjadi penyakit menahun bagi generasi muda. Padahal, di pundak mahasiswa pulalah predikat Agent of Change atau motor penggerak perubahan disematkan. Kita selalu dituntut untuk mampu menghadirkan gagasan kritis sekaligus gerakan nyata dalam merespon carut-marutnya persoalan bangsa.

Berangkat dari kegelisahan itulah, teman-teman dari PC IMM Kota Tangerang mencoba hadir menawarkan solusi lewat perkaderan Darul Arqom Madya (DAM) Nasional. Melalui forum ini, IMM yang lahir sebagai organisasi otonom Muhammadiyah kembali menegaskan perannya: menjadi wadah pencetak insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang seluruh langkahnya bernafaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Menjawab tantangan destruktif seperti apatisme yang sempat disinggung dalam riset Wida Aprilianda dkk tadi, kita sebagai alumni DAM tidak boleh lagi terlena dalam romantisme masa lalu atau sekadar sibuk dengan selebrasi simbolik. Manifestasi dari Khittah Berkemajuan menuntut sebuah lompatan besar, yaitu transformasi total dari gerakan yang semula berbasis emosional menjadi gerakan yang rasional dan substansial (rational-substansial movement).

Tema yang diangkat pun sangat bertenaga: “Konstelasi Kebangsaan: Manifestasi Gerakan untuk Khittah Berkemajuan”. Melalui tema ini, kita diingatkan untuk mampu memposisikan diri secara strategis di tengah dinamika bangsa, serta membumikan nilai-nilai ideologis menjadi sesuatu yang konkret dan berdampak luas.

Manifestasi gerakan yang kita impikan bukanlah narasi kosong. Ini adalah tentang bagaimana menerjemahkan Trilogi IMM langsung ke tengah masyarakat. Gerakan intelektual kita tidak boleh lagi mandek dan mati di ruang-ruang gelap sekretariat. Ia harus keluar dalam bentuk riset berbasis data yang valid, policy brief yang tajam, hingga literasi digital yang mencerahkan.

Begitu juga dengan wilayah advokasi kebijakan. Mengadvokasi kaum mustad'afin (mereka yang tertindas) kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan pekikan takbir dan kepalan tangan di jalanan. Gerakan itu harus naik kelas menjadi pendampingan ekonomi yang berkelanjutan, penguatan ekologi, hingga pencerdasan melek politik bagi warga di akar rumput.

Sepanjang acara, DAM Nasional ini benar-benar menjelma menjadi ruang dialektika yang sangat produktif. Bersama seluruh delegasi se-Indonesia yang berkumpul di Tangerang, kami di IMM Kota Surabaya sadar betul bahwa untuk menjadi seorang arsitek peradaban, modalnya tidak main-main. Dibutuhkan tiga fondasi utama yang harus mendarah daging selama proses DAM ini, yaitu Intelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas.

Lebih dari itu, agenda ini juga menjadi momentum emas untuk memperkuat kembali imunitas ideologis kita, sekaligus merajut komitmen kolektif demi gerakan yang berkemajuan. Di sinilah sarana konsolidasi terbaik untuk merumuskan langkah strategis, memastikan IMM hadir secara signifikan di ruang kultural dan sosial, serta bertindak sebagai cahaya pencerah bagi konstelasi bangsa.

Sembari menatap tahun 2045, narasi tentang Indonesia Emas kerap kali didengungkan. Kita adalah generasi yang diproyeksikan akan memegang kendali di masa itu. Namun, perlu kita ingat, tanpa bekal pengetahuan yang mumpuni, profesionalitas, dan landasan moral yang kokoh, bukan tidak mungkin prediksi "Indonesia Emas" itu justru akan bergeser menjadi "Indonesia Cemas".

Sebagai kader persyarikatan, tanggung jawab moral untuk mengawal cita-cita besar bangsa ini ada di tangan kita. Kita dituntut memiliki posisi tawar yang strategis. Di tengah-tengah forum, ingatan kami disegarkan oleh pesan dari Kakanda Riyan Betra Delza selaku Ketua Umum DPP IMM. Beliau mengutip kembali wasiat monumental K.H. Ahmad Dahlan: “Di antara kalian akan menjadi Dokter, Master, Insinyur, Guru dan lain-lainnya, lalu kembalilah kepada Muhammadiyah.”

Menyambung estafet pesan dari K.H. Ahmad Dahlan dan Riyan Betra Delza tersebut, saya merenung bahwa apa pun profesi kita di tahun 2045 nantientah kita akan berdiri sebagai birokrat, akademisi, teknokrat, ataupun sociopreneur,semuanya harus kita wakafkan untuk kejayaan umat dan bangsa melalui gerbong Muhammadiyah. Sebab, dari rahim Darul Arqom Madya inilah, cetak biru peradaban Indonesia yang berkemajuan itu mulai kita tulis. Kita bukan lagi penonton sejarah, kita adalah arsiteknya.

Editor: Fariz Zakariya Fauzan

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA