Kabid HPKP Koorkom IMM UINSA Kritik Kehadiran PC IMM Surabaya dalam Peringatan HUT Bhayangkara
![]() |
| Dokumentasi Internal |
Penulis: Muhammad Izzuddin Alqossam (Kader PK IMM Avempace)
IMMUINSA (09/07) – Ketua Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik (HPKP) Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menyampaikan kritik terhadap kehadiran Pimpinan Cabang (PC) IMM Surabaya dalam kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara.
Menurut Wahyu Fafa selaku Kabid HPKP Koorkom UINSA, kehadiran Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya dalam acara tersebut dinilai kurang tepat. Ia menilai, kondisi masyarakat saat ini masih diwarnai atmosfer ketegangan antara aparat dan sipil. Menurutnya, masyarakat masih menyimpan kekecewaan dan kritik terhadap kinerja aparat penegak hukum akibat berbagai persoalan yang mencuat dalam beberapa bulan terakhir.
"Kehadiran dalam seremoni tersebut di tengah derasnya kritik publik terhadap aparat berpotensi mereduksi independensi dan idealisme gerakan mahasiswa. Hal tersebut memunculkan persepsi bahwa organisasi, atau ikatan, atau rumah kita kehilangan daya kritisnya. Sikap seperti ini kami nilai mencederai marwah organisasi mahasiswa yang sejak awal lahir sebagai kekuatan moral, agen perubahan, dan penyambung suara rakyat," ujarnya.
Ia menegaskan, dalam kondisi ketika sebagian masyarakat masih mempertanyakan integritas dan profesionalisme aparat, kehadiran organisasi mahasiswa pada seremoni HUT Bhayangkara berpotensi mereduksi independensi organisasi serta memunculkan anggapan bahwa organisasi bisa diperjualbelikan gerakannya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan untuk menolak ruang dialog dengan institusi kepolisian. Sebaliknya, organisasi kemahasiswaan dinilai tetap perlu menjaga posisi kritis, independen, serta tetap menjadi social control.
Kabid HPKP juga berharap agar PC IMM Surabaya segera melakukan klarifikasi atas sikap tersebut agar kekecewaan para kader dapat terobati. Menurutnya, setiap langkah organisasi harus lebih mempertimbangkan dampak simbolik yang ditimbulkan di tengah publik. Ia menilai, IMM sebagai gerakan intelektual dan gerakan moral seharusnya mampu menunjukkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat hari ini.
Dalam kesempatan tersebut, Kabid HPKP Koorkom UINSA menyatakan, "Kegiatan tersebut berpotensi memecah belah gerakan kolektif sipil dengan gerakan mahasiswa lainnya. Perlu kiranya PC melakukan klarifikasi agar dapat meredam amarah internal organisasi maupun menetralisasi cara pandang eksternal terhadap ikatan yang kita cintai ini," pungkasnya.
Editor: Iskandar Dzulkarnain
