MBG Tak Sekadar Beri Makan, Mariman Darto Sebut Program Ini Dorong Pertumbuhan Ekonomi
| Dokumentasi: Internal |
Penulis: Fariz Zakariya Fauzan (Sekretaris Bidang RPK KUF IMM UINSA)
IMM UINSA— LHKP PWM Jawa Timur adakan dialog kebangsaan pada 25 Agustus 2026 dengan tema besar "Menguji Masa Depan MBG: Gizi, Anggaran, dan Kepentingan Publik".
Dalam hal ini Deputi Bidang Promosi dan Kerjasama Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Mariman Darto, menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan perputaran ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
Ia menyebut, berdasarkan survei yang disampaikan dalam pertemuan bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, program MBG disebut berkontribusi sekitar satu persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“MBG berkontribusi pada satu persen pertumbuhan ekonomi. Ini dahsyat, 1,4 juta tenaga kerja,” ujar Mariman.
Menurutnya, dampak ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari penyediaan makanan, tetapi juga dari rantai pasok yang melibatkan masyarakat di daerah. Koperasi, gabungan kelompok tani (gapoktan), peternak, petani, dan pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan untuk program MBG.
Mariman menilai keterlibatan pelaku ekonomi lokal penting agar MBG mampu menciptakan circular economy. Dengan demikian, anggaran yang dikeluarkan negara tidak hanya berakhir pada penyedia makanan, tetapi ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia mencontohkan kebutuhan telur dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan dan membangun rantai pasok secara bersama melalui koperasi.
“Makanya hari ini banyak sekali warga Muhammadiyah yang membuat peternakan ayam dan sebagainya untuk ayam bertelur,” katanya.
Selain berdampak terhadap ekonomi, Mariman menegaskan bahwa MBG sejak awal tidak dirancang sekadar sebagai program pemberian makanan. Program tersebut juga memiliki tujuan membentuk anak Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, sekaligus memiliki karakter.
Salah satu upaya yang didorong BGN adalah menjadikan kegiatan makan bersama sebagai bagian dari pendidikan karakter. Guru diharapkan mendampingi anak untuk membangun kebiasaan hidup sehat, budaya antre, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta memahami kandungan gizi makanan.
“Tidak sekadar memberi makan, tetapi ada penanaman karakter pada perilaku anak,” ujar Mariman.
Ia juga menekankan pentingnya literasi gizi di lingkungan sekolah. Menurutnya, anak perlu memahami sumber makanan bergizi, seperti karbohidrat, protein, dan serat, melalui buku, alat peraga, maupun informasi yang tersedia di sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, MBG diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan pemenuhan gizi, tetapi juga membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Rugi negara kalau hanya memberikan makan. Tapi bagaimana kemudian literasi gizinya dilakukan?” kata Mariman.
Ia menilai keberhasilan MBG pada akhirnya harus dilihat secara lebih luas, bukan hanya dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kualitas kesehatan, karakter anak, literasi gizi, serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat di tingkat lokal.
Editor: Iskandar Dzulkarnain