Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perkaderan Progresif Berbasis Fun Camp: Evaluasi Solidaritas dalam Bingkai Kebersamaan

Dokumentasi Internal

Penulis: Rizky Ceviratu Salsabila Kaaffah (Anggota Bidang Kader PK IMM Ibnu Rusyd)

Sejauh mana sebuah organisasi bisa menanamkan ideologi tanpa membuat kadernya merasa terbebani? Pertanyaan ini barangkali menjadi salah satu alasan mengapa PK IMM Ibnu Rusyd memilih mengemas agenda perkaderan kultural mereka bukan dengan forum kaku di ruang kelas, melainkan lewat Fun Camp di Klurak Eco Park, Mojokerto, pada Sabtu-Ahad, 8-9 Agustus 2026.

Perkaderan, sebagaimana dipahami dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, tidak pernah berhenti pada satu jenjang saja. Setelah kader menempuh perkaderan dasar seperti Darul Arqam Dasar (DAD), proses penguatan ideologi dan karakter tetap harus berlanjut lewat berbagai bentuk perkaderan lanjutan, salah satunya perkaderan kultural.

Upgrading menjadi salah satu wujud dari proses berkelanjutan itu, sebuah ruang bagi kader untuk kembali menyegarkan pemahaman, sekaligus mempererat ikatan emosional yang selama ini terbangun dalam keseharian berorganisasi. Tanpa adanya ruang semacam ini, bukan tidak mungkin semangat ber-IMM yang tumbuh sejak masa perkaderan dasar justru meredup seiring padatnya rutinitas akademik dan kesibukan masing-masing kader.

Mengusung tema "Solidarity in Harmony: Upgrading our Thinking, Sharing our Feeling", kegiatan ini merupakan rangkaian dari perkaderan kultural yang menyasar tiga hal sekaligus: menguatkan ideologi kader, menanamkan jiwa kebersamaan, dan mempererat kerukunan antar anggota. Ketiganya sejalan dengan semangat perkaderan dasar, "Mengakar Ideologi Ikatan, Melahirkan Kader Militan" sebuah tema yang menegaskan bahwa penguatan ideologi tidak berhenti pada level dasar, tapi terus diupgrade seiring perjalanan kader di organisasi. Militansi yang dimaksud pun bukan sekadar semangat berapi-api tanpa arah, melainkan militansi yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap nilai, struktur, dan tujuan bersama.

Salah satu materi yang menjadi sorotan dalam Upgrading kali ini adalah pengenalan bidang-bidang yang ada dalam komisariat. Bukan tanpa alasan, banyak kader yang selama ini aktif berproses namun belum sepenuhnya memahami peran dan tugas pokok serta fungsi (tupoksi) dari masing-masing bidang. Tak jarang kader hanya mengenal satu dua bidang saja, sementara bidang lain terasa asing meski sama-sama berada dalam satu struktur komisariat. 

Materi ini hadir untuk menjembatani kekosongan itu, agar ke depannya kader tidak lagi asing dengan struktur dan ranah kerja organisasi tempat mereka bernaung, sekaligus menumbuhkan rasa saling menghargai atas peran masing-masing bidang dalam menopang jalannya roda organisasi. Pemahaman semacam ini penting, sebab organisasi sebesar IMM tidak bisa berjalan hanya mengandalkan satu dua bidang yang aktif, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen yang ada di dalamnya.

Menariknya, seluruh materi tersebut tidak disampaikan dalam suasana formal ala kelas perkuliahan. Selama dua hari satu malam, kader diajak menyatu dengan alam terbuka Klurak Eco Park mulai dari mendirikan tenda bersama, berbagi tugas memasak, hingga larut dalam berbagai permainan kelompok yang dirancang untuk memancing kekompakan. Suasana semacam ini menciptakan ruang belajar yang jauh berbeda dari forum kajian biasa: lebih cair, lebih personal, namun tetap sarat dengan muatan nilai.

Pendekatan Fun Camp semacam ini sejalan dengan Experiential Learning Theory yang dikemukakan oleh David Kolb. Kolb menyebutkan bahwa proses belajar paling efektif terjadi ketika seseorang mengalami langsung suatu pengalaman konkret, kemudian merefleksikannya, sebelum akhirnya pengalaman itu diinternalisasi menjadi pemahaman baru yang pada gilirannya diuji kembali lewat eksperimen aktif di kehidupan nyata. Siklus ini dikenal dengan empat tahap: concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, dan active experimentation. 

Yang artinya, dalam konteks pengkaderan, penanaman ideologi dan nilai-nilai organisasi akan lebih membekas ketika kader tidak hanya mendengarkan materi secara pasif, tetapi juga mengalami langsung dinamika kebersamaan lewat aktivitas semacam Fun Camp mulai dari tidur satu tenda, makan bersama, hingga menyelesaikan berbagai games kelompok yang menuntut kerja sama dan komunikasi. Dengan kata lain, keempat tahap dalam siklus Kolb tersebut hadir secara alami dalam rangkaian Fun Camp, tanpa perlu dipaksakan lewat instruksi yang kaku.

Hal ini pula yang tampak dibenarkan oleh Nayla selaku ketua pelaksana. Baginya, kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk liburan dan senang-senang semata, melainkan untuk membangun bonding, menciptakan harmoni, serta merawat indahnya kebersamaan antar sesama. 

Kesan serupa turut dirasakan kader PK IMM Ibnu Rusyd yang ikut dalam kegiatan ini. Bagi mereka, pengemasan Upgrading dalam bentuk Fun Camp membuka ruang perkenalan antar kader yang sebelumnya belum saling mengenal, sekaligus mempererat kebersamaan antara kakak-kakak jajaran dan kader sesuatu yang barangkali sulit didapat lewat forum materi yang formal. 

Interaksi-interaksi kecil semacam bercanda di sela sesi materi, saling membantu mendirikan tenda, atau sekadar duduk bersama menikmati suasana alam, pada akhirnya menjadi ruang tumbuhnya kedekatan yang tidak bisa diukur lewat presensi maupun nilai evaluasi materi. Justru dari hal-hal kecil semacam inilah rasa memiliki terhadap komisariat perlahan tumbuh, jauh lebih kuat dibanding sekadar mengingat poin-poin materi yang disampaikan.

Dari sisi teori Kolb, apa yang dirasakan para kader ini bukan sekadar euforia sesaat. Ikatan emosional yang terbangun selama Fun Camp justru menjadi bagian dari siklus belajar itu sendiri: pengalaman konkret berupa kebersamaan, permainan, dan diskusi santai yang kemudian direfleksikan bersama, lalu diinternalisasi menjadi pemahaman baru tentang makna solidaritas dan militansi kader bukan sebagai jargon yang dihafalkan, melainkan sebagai sesuatu yang benar-benar dirasakan dan pada akhirnya akan diuji kembali dalam praktik keseharian berorganisasi setelah kader kembali ke aktivitas masing-masing.

Pada akhirnya, perkaderan progresif tidak selalu harus dimaknai sebagai proses yang serius dan formal. Justru lewat pendekatan yang lebih cair seperti Fun Camp, nilai-nilai ideologis bisa terserap secara alami, dibarengi dengan tumbuhnya kedekatan emosional antar kader yang menjadi fondasi solidaritas jangka panjang. Model perkaderan semacam ini pun bisa menjadi refleksi bagi komisariat lain, bahwa penguatan ideologi tidak melulu harus lewat forum kajian yang tegang, melainkan bisa pula lahir dari kehangatan kebersamaan yang tulus. Bukan tidak mungkin, ke depannya format perkaderan berbasis pengalaman semacam ini bisa terus dikembangkan dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing komisariat.

Harapannya sederhana: sejauh apa pun kader-kader Ibnu Rusyd kelak terbang, mereka akan tetap kembali ke rumah yang telah membesarkannya. Seperti sebuah kalimat yang indah, "Sayap membawa burung ke mana-mana, tapi hati tetap ingat rumahnya."

Editor: Ahmad Muharrik Albirra

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA