Usung Tema ‘Komisariat Telah Mati?’, PK IMM KUF Menggugat Keberlanjutan Organisasi
| Wawancara ekslusif ketua umum KUF |
Penulis : Fatin Azmi Fauziah (Kader PK IMM Ushuludin dan Filsafat)
IMM UINSA – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Ushuluddin dan Filsafat (PK IMM KUF) UIN Sunan Ampel Surabaya kembali menggelar agenda Upgrading pada tanggal 23-24 Agustus 2026 di Klurak Eco Park, Mojokerto.
Agenda tahunan ini mengusung tema yang sesuai dengan kultur komisariat berbentuk pertanyaan reflektif, yaitu ‘Komisariat Telah Mati?’ Muhammad Bimo, Ketua Umum PK IMM KUF, menjelaskan bahwa tema ini sebagai bentuk tantangan kepada seluruh kader dan jajaran pengurus komisariat.
“Ini menjadi tamparan serius. Komisariat ini apakah akan mati, apakah tidak, itu akan ada di jawaban teman-teman semua. Jadi ini adalah tantangan untuk teman-teman komisariat, dan juga kader yang baru, maupun jajaran,” ucapnya.
Bimo melandasi pengambilan tema kegiatan ini berdasarkan teori dari Ibnu Khaldun tentang ‘ashabiyah. Ia mengingatkan agar tidak terlena dan memaksimalkan kondisi yang ada agar komisariat tetap hidup.
Bimo menambahkan dalam penjelasannya terkait indikator utama kematian komisariat berawal dari hadirnya kader shifrun atau kader nol. Yaitu kader yang hanya menghabiskan waktu dan tidak memberikan dampak bagi lingkungannya.
“Komisariat ini akan mati ketika kadernya menjadi kader yang nol atau kader shifrun. Yaitu kader yang dari pagi menunggu sore, dari sore menunggu malam, dari malam menunggu pagi. Meskipun berada di lingkungan perkaderan, tapi tidak ada dampaknya sama sekali,” imbuhnya.
Selain itu, Bimo juga menegaskan terkait pesan mendasar perkaderan Muhammadiyah, untuk tidak sekadar mencari keuntungan pribadi atau memanfaatkan celah yang ada dalam organisasi.
“Jangan pernah mencari hidup di Muhammadiyah, tapi hidup-hidupilah Muhammadiyah. Jangan sampai hanya memanfaatkan celah saja, namun kita tidak ada dampak baiknya,” ungkap Bimo.
Meski agenda ini mengusung tema reflektif yang menggugat, Bimo tetap menunjukkan rasa optimisnya terhadap masa depan komisariat dan proses keberlanjutan organisasi.
Menurutnya, keaktifan seorang kader tidak harus terbatas pada kehadiran fisik dalam agenda internal komisariat. Ia membebaskan keaktifan kader untuk berada di lini manapun dalam ranah kampus, komunitas luar kampus, maupun lembaga strategis lainnya, namun tetap kembali kepada komisariat.
“Selama kader
Ushuluddin bisa menjadi kader yang alfun, maka saya akan tetap
optimis kalau komisariat ini akan tetap jaya selamanya,” tandasnya.
Editor : Fariz Zakariya Fauzan