Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kajian Pemberdayaan Batch II IMM UINSA Bahas Pergeseran Nilai Antargenerasi

Dokumentasi Kajian Pemberdayaan
Penulis: Anidyarachman Nurizza dan Fathimah Azzahrah (Kader PK IMM Al Farabi)


IMM UINSA (24/09/2026) - PK IMM Al-Farabi kembali mengadakan kegiatan Kajian Pemberdayaan Batch II pada Jumat, 4 September 2026 di Sekretariat IMM UINSA.  Pada kajian kali ini mengundang Izza Mukmin, S.Ag. sebagai pemateri dengan tema “Pergeseran Nilai, Karakter, dan Pola Interaksi Antargenerasi.”

Bagi penyelenggara, kajian ini menjadi bagian dari upaya IMM dalam memperkuat kadernya dalam ranah pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pendidikan anak-anak di lingkungan sekitar.

Sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat oleh bidang Sosial Pengembangan Masyarakat (Sospemas) PK IMM Al-Farabi adalah sebuah upaya memberikan awareness bagi kader IMM terhadap isu dan kebutuhan di masyarakat.

Begitulah kiranya garis besarnya menurut Aulia Salsabila sebagai ketua bidang Sospemas sekaligus ketua umum RBB (Ruang Bimbingan Belajar) Al-Farabi periode 2025-2026. Pembahasannya berfokus pada pendidikan anak-anak lokal yang mana spesifik pada LSO baru dibawah naungan bidang Sospemas, yakni RBB. 

Izza Mukmin menyampaikan "Di era digital ini, kita ingin mengembalikan dan mempertahankan budaya. Dulu kita merasakan permainan tradisional, berbeda dengan sekarang anak kecil yang permainannya sudah handphone." Baginya, perkembangan teknologi tersebut tidak dipandang sebagai alasan untuk menghentikan upaya pemberdayaan.

Sebaliknya, mahasiswa didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan.

Menurut Izza pula, pemberdayaan bukan sebuah hal yang dilakukan hanya sekedar formalitas pada aksi filantropi. Sejatinya pemberdayaan muncul dari hati nurani yang bersih. 

Dari keterbatasan kita dapat mengembangkan sarana belajar untuk anak-anak setempat yaitu rumah binaan. Titik kemenangan dalam pemberdayaan adalah ketika melihat adik-adik belajar kita merasa senang. 

Dalam kajian tersebut, Izza Mukmin menyampaikan pandangan Ki Hadjar Dewantara bahwa “anak anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan membimbing tumbuhnya kodrat itu.” Sehingga kita sebagai pendidik harus mendidik anak-anak sesuai dengan kodratnya mereka, jangan dipaksakan mengikuti kodrat kita.

Menurut Izza, sekurang-kurangnya terdapat tiga tujuan utama pendidikan yang menjadi landasan operasional. Pertama, pendidik harus memiliki target yang jelas dalam mengajar agar terlihat perkembangan yang nyata pada anak didik.

Kedua, pentingnya motivasi bagi pendidik agar tetap konsisten hadir di rumah binaan meski ada rasa jenuh. Ketiga, menumbuhkan rasa empati dan komunikasi yang baik antar sesama pendidik maupun kepada anak didik agar program tetap berjalan berkelanjutan.

Pada akhirnya, menurut Aulia Salsabila, suksesnya kajian pemberdayaan yang diselenggarkan dapat diukur dari pemahaman materi oleh anak-anak juga aspek lainnya. “Menurut saya, keberhasilan kegiatan ini bisa dilihat dari sejauh mana peserta paham akan materi juga terdapat perubahan nilai, karakter, serta pola interaksi yang terjadi antar generasi,” katanya.

Baginya, tema yang dibahas cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga  ada harapan partisipan kajian pemberdayaan bisa membawa hasil diskusi ke lingkungan masing-masing, terutama dalam menyikapi perbedaan antar generasi dengan lebih terbuka dan bijak.

Aulia Salsabila juga menjelaskan bahwa kajian tersebut menekankan akan upaya memberikan atensi tentang pentingnya sikap saling memahami di tengah perbedaan antar generasi. Setiap generasi memiliki pengalaman, cara berpikir, dan pola interaksi yang berbeda, sehingga perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi jarak.

Nurul Hidayati, sebagai salah satu peserta, juga memberikan respon dari perspektif yang berbeda dalam berpartisipasi pada kajian pemberdayaan. “Anak kecil sekarang berbeda dengan yang dulu, mereka bilang mengajar jangan dengan lagu meskipun kita juga tahu kalau anak kecil ‘biasanya’ suka menyanyi. Sehingga kita juga perlu menguasai model dan atau strategi lain dalam mengajar,” ujarnya.

Peserta yang akrab disapa Hilda, dari kajian perberdayaan ini dapat diambil pelajaran bahwa memahami generasi kecenderungan generasi baru adalah hal yang benar-benar perlu digali sebelum proses kegiatan belajar-mengajar terjadi.


Editor: Restu Agung Santoso

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA