Lupakah Kita Cara Kekeluargaan?
| Gambar dihasilkan oleh AI |
Penulis: Muhammad Alwy Zakariya (Ketua Umum Komisariat Ushuludin dan Filsafat)
Senang rasanya dapat berproses di Ikatan ini, senang rasanya menemukan tempat bertumbuh, tidak henti rasa senang penulis saat mendapatkan teman-teman baru layaknya keluarga, di sini di IMM UINSA kita berbagi suka duka, bercanda, mengolok-olok, layaknya sebuah keluarga, pahit getir kehidupan berorganisasi kita lalui bersama.
Penulis tentu sangat ingat saat menjadi Maba dan tidak tahu apa-apa, hingga perlahan belajar memahami dunia, belajar keikhlasan lewat sepeda motor, belajar dengan arulina dan bimoina menuangkan gagasan lewat tulisan, belajar dengan burung ababil tentang wirausaha, belajar dengan adiabsurd menjadi akademisi yang lebih baik, belajar siyasah dengan fufufafa, mbak far & bung yoga.
Mungkin tulisan ini tidak akan selesai jika hanya untuk menuliskan kepada siapa saja saya belajar disini, tanpa menyebut mereka satu persatu tidak berarti penulis melupakan hal itu, senang rasanya berproses bersama mereka. Hingga dewasa ini berbagai dinamika organisasi telah penulis alami. Hingga tidak ada alasan lain untuk menuliskan ini selain cinta. Cinta dan keresahan adalah dua alasan saya menulis ini.
Hari-hari terakhir ini tentu saja tidak baik-baik saja, Ketika purbaya dicopot padahal masalah sebenarnya adalah si pencopot, Ketika di UINSA sendiri rektor tidak berambut menjabat lagi 2 periode, hari-hari penuh gejolak pun terjadi di IMM UINSA. Mendekati Musyawarah koorkom tentu saja anomali-anomali mulai muncul, permainan mulai dimainkan, koalisi-koalisi mulai terbentuk, klaim-klaim tidak berdasar pun mulai bermunculan.
Sebenarnya dalam dinamika organisasi otonom hal-hal seperti ini sudah biasa, namun akan menjadi luar biasa bila terjadi di IMM UINSA, kita selayaknya keluarga diajarkan untuk menyelesaikan hal ini dengan cara kekeluargaan. Di IMM UINSA setiap Angkatan akan menyelasaikan dengan damai siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya, tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan ataupun dikucilkan.
Namun jika memang ada dua calon yang akan maju bertanding, maka seharusnya dua calon tersebut telah bertemu secara damai, dan bersepakat untuk berkompetisi secara jujur dan sudah saling rela apabila salah satu dari mereka mengalami kekalahan. Disitulah letak kekeluargaan, dimana dua kubu akan saling bertarung dengan sehat dan tidak ada pihak yang akan tersakiti.
Salah Komunikasi atau Politik Adu Domba?
Dinamika hari ini mungkin telah melupakan sesuatu yakni “kekeluargaan”, mungkin ada pihak yang merasa salah satu kubu telah berkoalisi lantas ia membangun koalisi tandingan untuk melawannya, tanpa berkomunikasi secara damai dengan kubu yang ia anggap lawan, ia menyebarkan berita pertarungan dan koalisi yang sudah terbentuk untuk membentuk koalisi tandingan.
Cara itu memang wajar dalam hal politik, bahkan menjatuhkan seseorang secara kejam sudah biasa dilakukan sejak zaman dulu, ingatlah ketika Amerika mengeksekusi Muammar Ghadavi, dan ingatlah Ketika yazid dan pasukannya memenggal kepala Husain cucu Rasulullah.
Namun seperti itukah cara kita bersikap dengan keluarga? Bagaimana jika kubu yang selama ini ia anggap lawan ternyata tidak menginginkan kekuasaan itu? Bukankah sama saja dengan melakukan adu domba? Bagaimanapun ini adalah bentuk komunikasi yang buruk, sudah lupakah kita cara kekeluargaan?
Menilik Kembali Makna Politik
“Versi terburuk Politik adalah Perebutan kekuasaan, harta dan Jabatan”
Itulah sabda peter Merlk yang dikutip oleh Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Politik. Budiardjo menjelaskan secara umum makna politik ialah suatu usaha unutk mencapai sesuatu yang lebih baik yang kemudian di pengaruhi oleh 5 unsur: yakni Negara, Kekuasaan, Pengambilan Keputusan, Kebijaksanaan, dan Pembagian/alokasi.
sehari-hari kita disuguhkan dengan versi terburuk politik, dimana perebutan kekuasaan dilakukan dengan cara kotor, seperti suap menyuap, jual beli suara, fitnah kejam melalui algoritma media sosial dan lain sebagainya. Imbasnya adalah tujuan politik yang tidak benar, hanya untuk mencari kekuasaan, jabatan, dan harta.
Akibatnya yang terjadi adalah praktik korupsi secara terang-tarangan dan terorganisir, akibatnya adalah kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kriminalitas tinggi, ketidaksejahteraan rakyat dan berbagai hal-hal buruk lainnya. Karena kita mungkin percaya satu hal. Setiap kekuasaan yang diperoleh dengan buruk akan dijalankan dengan buruk dan berakhir dengan buruk.
Seharusnya Politik ditujukan untuk kehidupan yang lebih baik untuk semua orang, bukan hanya segelintir kepentingan, dengan begitu kita akan melihat kebijakan yang memberikan manfaat untuk rakyat, dengan begitu kita mungkin tidak akan sering-sering melihat kasus korupsi, dan lain sebagainya.
Seperti hal nya dinamika ini, alangkah baiknya cara kekeluargaan itu tidak diabaikan, bagaimanapun seharusnya tidak ada jabatan yang diperoleh melalui cara-cara kurang yang baik, dan menimbulkan turbulensi politik seperti ini, karena bagaimanapun kita selayaknya keluarga di IMM UINSA.
Dalam konteks dinamika Musyawarah ini, penulis hanya ingin mengingatkan, sudah lupakah kita cara kekeluargaan? Melihat dinamika yang kurang sehat ini, selayaknya penulis melakukan kewajiban yang telah diajarkan dalam ayat perkaderan “wa tawāṣau bil-ḥaqq” dalam surah Al-asr.
Editor: Fariz Zakariya Fauzan