Semangat Al-Ma’un dalam Lagu “Membasuh” Karya Hindia ft. Rara Sekar
![]() |
| Gambar oleh Spotify. Diunduh melalui open.spotify.com |
Penulis: Muhammad Alwy Zakariya ( Ketua Bidang HPKP PK IMM Ushuluddin dan Filsafat)
Mungkin kita tidak asing dengan lagu “Membasuh” ini.
Lagu yang dirilis pada 17 Juli 2019 merupakan salah satu singel dari album
Hindia, yakni Menari dengan Bayangan. Sejak dirilis, lagu ini telah
diputar jutaan kali oleh pendengar di berbagai platform musik seperti Spotify,
Joox, Apple Music, dan YouTube. Lagu ini terinspirasi dari Petra Sihombing yang
memberikan Hindia gitar akustik miliknya.
Lagu “Membasuh” sarat akan makna yang menyentuh hati
pendengar. Lagu ini dimulai dengan suara petikan gitar yang lembut dan suara
rendah Hindia yang menyanyikan lirik tentang pemberian yang tak kunjung
kembali. Lagu ini menjelaskan bahwa hidup tak hanya soal meminta dan menerima.
Dari lagu ini, kita diajarkan untuk senantiasa berbagi walau memiliki
keterbatasan.
Lewat lirik-liriknya dalam lagu ini, Hindia memberikan
pesan moral dan sosial tentang pentingnya melakukan kebaikan tanpa mengharapkan
imbalan atau pamrih. Di lagu ini pula, kita diajarkan untuk tetap berusaha
memberikan kebaikan kepada orang lain, meskipun saat menghadapi kesulitan.
Kita sebagai pendengar dapat mengambil banyak nilai
positif yang penting untuk menjalani kehidupan di dunia yang saat ini semakin
dipenuhi oleh orang-orang yang kehilangan rasa terima kasih dan hanya fokus
pada pencapaian kesuksesan. Dari lagu ini, kita disadarkan akan pentingnya
memberi tanpa mengharapkan imbalan. Lagu ini mengajarkan kita untuk tulus dan
ikhlas, serta menikmati kehidupan yang indah ini dengan bersyukur atas segala
yang dimiliki.
Hal ini juga diajarkan dalam Muhammadiyah melalui
nilai-nilai Al-Ma’un. Dari filosofi Al-Ma’un, gerakan Muhammadiyah terus
memberi kebermanfaatan melalui sekolah-sekolah, panti asuhan, rumah sakit PKU,
dan berbagai bentuk swadaya masyarakat lainnya. Di Muhammadiyah-lah kami
diajarkan seperti lirik “tetap memberi, walau tak suci”. Kami diajarkan untuk
selalu ikhlas dan terus memberi meskipun dalam kekurangan.
Kisah K.H. Ahmad Dahlan dan Al-Ma’un
Di Kauman, Ahmad Dahlan mengajar santrinya Surah
Al-Ma’un selama kurang lebih tiga bulan. Lantas, santri-santrinya pun mulai
menanyakan hal tersebut, “Kiai, sudah berbulan-bulan kita mengaji Al-Ma’un,
mengapa kita selalu mengaji Al-Ma’un?” Dengan tenang, K.H. Ahmad Dahlan
menjawab, “Sudah berapa anak yatim yang kalian santuni? Sudah berapa orang
miskin yang kalian bantu?” Kiai selalu mengajarkan kita untuk mengamalkan
langsung nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Ahmad Dahlan bukan sekadar mengkaji makna surah
tersebut, tetapi juga mengamalkannya. Meski dengan berbagai kesulitan di masa
penjajahan, beliau terus berikhtiar mengamalkan nilai Al-Ma’un. Dari nilai
Al-Ma’un inilah semangat memberi diamalkan oleh beliau dengan memberikan
sesuatu yang tidak bisa habis, yakni ilmu pengetahuan melalui sekolah.
Pada masa perjuangannya, tentu saja tidak berjalan
mulus. Bahkan, suatu ketika K.H. Ahmad Dahlan sempat melelang seluruh isi
rumahnya untuk membayar gaji guru. Dakwahnya juga sempat mendapat penolakan
hingga musalanya dibakar, tetapi beliau terus melanjutkan perjuangannya.
Menurut penulis, hal ini adalah bagian nyata dari lirik “cukup besar tuk
mengampuni, tuk mengasihi tanpa memperhitungkan masa yang lalu”.
Melalui Persyarikatan Muhammadiyah, beliau juga
mendirikan PKU untuk membantu pelayanan kesehatan bagi warga tidak mampu. Ini
adalah bukti keinginannya untuk membebaskan umat tidak hanya dari belenggu
kebodohan, tetapi juga kemiskinan dan problem kesehatan. Menurut penulis, ini
adalah gambaran paling indah dari lirik “terus memberi”.
Dari semangat memberi Al-Ma’un inilah, sampai saat ini
Muhammadiyah telah mendirikan 172 perguruan tinggi, 122 rumah sakit, 231
klinik, 5.354 sekolah, dan 1.012 lembaga sosial. Yang terpenting, Ahmad Dahlan
melalui Muhammadiyah tidak hanya membangun bangunan, tetapi juga membangun
sistem dan sumber daya manusia yang bisa menjalankannya hingga hari ini. Dari
Al-Ma’un, kita diajarkan bukan sekadar tentang memberi, tetapi juga melampaui
itu semua, yakni tentang memberi tanpa batas dan selamanya.
Kita sebagai Penerus Ahmad Dahlan
Dalam buku Ideologi Kaum Intelektual, Ali
Syariati menggagas pemikirannya yang terinspirasi dari para rasul tentang misi
pembebasan terhadap masyarakat yang tertindas dan membuka sebuah gerbang
revolusi demi terwujudnya suatu keadilan sosial dan persatuan masyarakat.
Dalam hal ini, Ali Syariati menggagas sosok yang
mewarisi sifat pembebas tersebut yang ia sebut sebagai Rausyan Fikr.
Menurutnya, Rausyan Fikr adalah seorang intelektual atau nabi sosial
yang telah tercerahkan pada ruang lingkupnya. Mereka terlahir dalam hiruk-pikuk
ketidakstabilan sosial dengan tujuan meluruskan kembali jalan ketauhidan,
membebaskan masyarakat dari ketidakadilan, dan mengatasi ketidakstabilan yang
terjadi.
Kita mungkin tahu bahwa istilah Rausyan Fikr sangat
dekat perangainya dengan sosok Sang Pencerah, K.H. Ahmad Dahlan. Kiprahnya
tidak hanya sebagai ulama atau intelektual, tetapi juga sebagai pencerah yang
membebaskan masyarakat dari belenggu kebodohan dan ketidak-sejahteraan.
Dengan ajarannya tentang Al-Ma’un dan amar makruf nahi
mungkar, lewat Muhammadiyah Ahmad Dahlan mengajarkan semangat memberi yang
tidak ada habisnya, senada dengan lagu “Membasuh” yang mempunyai pesan moral
untuk terus berbagi.
Maka, tidak ada yang lebih pantas untuk meneladani
kiprahnya selain kita sebagai kader Muhammadiyah. Semangat memberi selalu
menjadi moto dan penyemangat bagi kita sesama kader. Mungkin penulis sendiri
sempat mengeluh ketika dihadapkan dengan riuhnya perkaderan, tetapi seorang
tetua memberikan sebuah nasihat, “Di sinilah kita di Muhammadiyah, kita
mengusahakan untuk tetap memberi meskipun dalam kekurangan, memberikan
pelajaran meski tetap harus belajar.”
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ
وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا
يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى
اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ
فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
Artinya: “Orang (Ansar) yang telah menempati kota
(Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang
yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam
hatinya terhadap apa yang diberikan kepada (Muhajirin). Mereka mengutamakan
(Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang
mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, itulah orang-orang yang
beruntung.”
