Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari Jauh, Aku Menjagamu dalam Doa

Gambar oleh Nzfhatipoglu diunduh dari istockphoto.com
Penulis: Zidni Alfan Ni'am A. (Sekretaris Bidang HPKP PK IMM Ushuluddin dan Filsafat)


Bab 1 — Doa yang Pertama
Zay selalu datang ke kampus tiga puluh menit lebih awal. Bukan karena ia rajin, meski dosen-dosennya sering mengira begi
tu. Ia hanya suka koridor fakultas di pagi hari, ketika belum banyak orang berlalu-lalang. 

Musala kecil di ujung itu menjadi tempat favoritnya salat duha sebelum kuliah dimulai. Zay memang bukan tipe yang banyak bicara. Teman-temannya di Kelas B menganggapnya kalem dan enak diajak kerja kelompok. Hanya saja, ia tidak pandai membuka obrolan.

Di kepalanya, kalimat-kalimat tersusun rapi, tetapi sering kali tertahan sebelum sempat terucap. Anehnya, saat berdoa, kalimat-kalimat itu mengalir tanpa pernah terhenti.

Pagi itu, selesai salat, ia duduk di bangku panjang depan Ruang 204 dan membuka buku catatan. Dari ujung koridor terdengar tawa kecil. Zay mengangkat kepala.

Seorang perempuan berkerudung krem berjalan bersama dua temannya. Ia membawa map biru di dadanya dan sedang menahan tawa. Senyumnya tidak lebar, tetapi cukup hangat. Tipe senyum yang menghadirkan rasa tenang bagi orang sekitarnya.

Zay tahu perempuan itu satu program studi dengannya, tetapi berbeda kelas. Perempuan itu melewati bangkunya dan menoleh sebentar, bukan kepada Zay, melainkan ke papan pengumuman di dekatnya.

Dada Zay tiba-tiba berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia buru-buru menunduk, padahal tak satu pun kalimat di bukunya terbaca.

"Namanya Evia," kata Raka, teman sebangkunya, siang itu di kantin, setelah Zay bertanya dengan nada sebiasa mungkin. "Kelas A. Kenapa?"
"Nggak. Cuma tanya."

Raka menatapnya curiga sambil mengaduk es tehnya, tetapi tidak bertanya lagi.
Sejak hari itu, Zay mulai menemukan Evia di mana-mana. 

Di koridor saat pergantian jam kuliah. Di kantin, duduk di dekat jendela. Di halaman kampus, menyapa petugas kebersihan dengan senyum yang sama setiap pagi. Zay tidak pernah menyapa. Ia hanya memperhatikan dari jauh, lalu pura-pura sibuk jika Evia kebetulan menoleh.

Sampai suatu pagi, tanpa sengaja, ia mendengar Evia bercerita kepada Dinda di dekat musala. "Ibuku masuk rumah sakit lagi, Din. Tiap malam aku nggak bisa tidur. Rasanya mau pulang,tapi ada tugas, ada kuliah."

Suaranya pelan dan sedikit bergetar. Dinda memeluk bahunya. Zay berdiri kaku di balik pintu musala, memegang sajadah yang belum sempat ia lipat.

Ia tidak punya hak untuk menghibur. Ia bahkan belum pernah bicara dengan Evia. Namun, ia punya sesuatu yang tidak perlu izin siapa pun, yaitu doa.

Malam itu, selesai salat Isya, ia menyebut nama Evia untuk pertama kalinya di hadapan Tuhan. Lalu di halaman paling belakang buku catatannya, ia menulis beberapa baris yang tak akan pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

tapi namamu sudah kusebut di sepertiga malam.
Aku tak punya apa-apa untuk kuberikan,
selain doa yang kutitipkan pada langit.
Jaga dia, Tuhan, dalam tidurnya yang resah. 
Jaga ibunya, jaga senyumnya.
Biar aku di sini saja, menjaganya dari jauh.

Evia sendiri tidak tahu apa-apa. Baginya, Zay hanyalah salah satu dari sekian banyak wajah yang pernah ia lihat di kampus.


Bab 2 — Jarak yang Kujaga
Satu semester berlalu dengan cara yang sama. Zay masih menyimpan semuanya sendiri. Ia hafal jam makan siang Evia, hafal bahwa Evia lebih suka duduk di dekat jendela, dan hafal botol minum hijau pastel yang selalu dibawa. 

Setiap selesai salat, ia menyebut nama itu, pelan, hampir tanpa suara. Hingga kesempatan pertama itu datang dari arah yang tidak ia duga.
"Tugas Pengantar Penelitian digabung per angkatan," kata dosen di depan kelas. "Satu kelompok terdiri dari dua kelas. Daftarnya sudah saya tempel."

Zay mencari namanya di daftar. Kelompok 5: Zay, Raka, Dinda, Evia.
Ia membaca nama itu dua kali. Raka menyikut lengannya sambil menahan senyum. "Jangan bilang apa-apa," bisik Zay.
"Aku nggak bilang apa-apa," jawab Raka, jelas sedang bohong.

Pertemuan pertama diadakan di perpustakaan, di meja panjang dekat rak jurnal. Evia duduk di seberang Zay dan tersenyum.
"Kamu Zay, kan? Kelas B?" 
"Iya. Kamu Evia."
"Kok tahu?"
"Eh... tadi di daftar kelompok," jawab Zay cepat.

Raka di sebelahnya terbatuk, entah sungguhan atau pura-pura.Mereka membagi tugas: Zay dan Evia mengurus tinjauan pustaka, Raka dan Dinda mengurus metodologi. Dari dekat, Zay melihat hal-hal yang tak pernah terlihat dari ujung koridor. 

Evia teliti dan tidak sungkan bertanya. Ia mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagunya saat berpikir. Dan di bawah matanya ada bayang gelap, tanda malam-malam yang tak pernah cukup untuk tidur.

"Menurutmu, jurnal ini cukup relevan nggak?" tanya Evia sambil menggeser laptopnya. "Relevan, tapi datanya agak lama. Mungkin kita cari pembanding yang lebih baru," jawab Zay.

Lalu, setelah ragu sejenak, ia menambahkan pelan, "Kamu kelihatan capek. Bagian ini biar aku yang cari." Evia menatapnya sebentar. "Kamu baik banget, ya."
"Kebetulan aku lagi senggang."Padahal jadwal Zay hari itu sudah penuh. Ia hanya tidak tahu cara lain untuk mengatakan bahwa aku tahu harimu sedang berat.

Seminggu kemudian, bangku Evia kosong. Dinda yang menjelaskan di perpustakaan. "Evia pulang kampung. Ibunya kritis. Dia titip minta maaf soal tugas."
Zay menutup bukunya perlahan. Malam itu ia salat lebih lama dari biasanya, dan namanya adalah yang pertama ia sebut.

tak bisa menggenggam tanganmu,
tak bisa berkata 'semua akan baik-baik saja.'
Tapi sajadahku cukup lebar,
untuk menampung seluruh rasa takutmu.

Beberapa hari berikutnya, Zay diam-diam mengerjakan bagian tinjauan pustaka milik Evia sampai tuntas, lalu mengirimkannya ke Dinda.

"Bilang saja ini dikerjakan bareng," katanya.
"Kenapa nggak bilang kamu yang kerjain?" tanya Raka dengan alis terangkat, sepulang dari perpustakaan.
"Kalau dia tahu, dia pasti merasa berutang. Aku nggak mau dia berutang apa pun padaku."
"Terus kamu dapat apa?"
Zayu tersenyum tipis, matanya menatap lantai. "Kalau doaku sampai, itu sudah cukup." Raka tidak menjawab. Untuk pertama kalinya ia berhenti menggoda sahabatnya itu.


Bab 3 — Doa yang Tak Perlu Alamat
Evia kembali ke kampus dua minggu kemudian. Wajahnya masih letih, tetapi matanya sudah kembali hidup. Ibunya melewati masa kritis dan kini dirawat di rumah.

Presentasi kelompok berjalan lancar, Bapak dosen pun memberi nilai yang memuaskan. Raka dan Dinda bersorak kecil di lorong, sementara Zay berdiri agak jauh dengan perasaan yang ganjil. Tugas itu selesai. Alasan mereka bertemu setiap minggu pun ikut selesai.

"Zay," panggil Evia dari belakangnya.
Ia menoleh. Evia berdiri dengan map birunya, tersenyum seperti biasa.
"Terima kasih, ya. Kata Dinda, bagianku dikerjakan bareng-bareng selama aku pergi." Evia menatapnya sebentar. "Tapi gaya tulisannya mirip banget sama tulisanmu."
Zay merasa jantungnya berhenti satu detik. "Mungkin... Dinda yang bantu.", "Mungkin." Evia tersenyum, tidak mendesak. 
"Kalau memang bukan kamu, tolong sampaikan terima kasihku kepada siapa pun itu."
"Pasti kusampaikan."

Hening sebentar. Zay tahu inilah saatnya. Ia bisa berkata jujur tentang tugas itu, tentang nama yang ia sebut setiap malam, tentang tiga puluh menit lebih awal yang selalu ia ambil demi bisa melihat senyum itu.

Namun, Evia lebih dulu bicara, dengan suara yang lebih pelan. 
"Zay, aneh, ya. Beberapa malam kemarin, waktu aku paling takut, aku tiba-tiba merasa tenang. Seperti ada yang diam-diam mendoakan aku."
Zay menunduk. Ada sesuatu yang hangat dan perih sekaligus di dadanya. 

"Mungkin memang ada," katanya akhirnya, nyaris berbisik.
Evia tertawa kecil, seakan itu hanya kalimat penghibur. "Kalau begitu, semoga orangnya juga selalu dijaga."

Lalu ia melambai, berjalan pergi bersama Dinda, dan koridor kembali pada jarak yang lama: Zay di satu ujung, Evia di ujung yang lain.
Zay tidak menyesal. Ia hanya berdiri lama menatap punggung berkerudung krem itu,sampai hilang di balik tikungan. Malam itu, di halaman paling belakang buku catatannya, ia menulis puisi terakhir.

siapa yang menyebut namamu di sepertiga malam.
Doa tak butuh alamat, 
ia hanya perlu sampai.
Dan jika suatu hari kau bahagia,
tanpa tahu ada yang bersujud untukmu, 
itulah jawaban paling indah.
Dari seseorang yang menjagamu dari jauh.
Kita belum pernah saling menyapa, 
Aku tak bisa duduk di sisi ranjang itu, 
Tak apa kau tak pernah tahu.


Editor: Nasywa Athirah Nathania Zahra

Redaksi IMM UINSA
Redaksi IMM UINSA Tim Redaksi RPK KOORKOM IMM UINSA