Istisqa: Merendah di Hadapan Langit
![]() |
| Di Unduh Melalui: https://uinsgd.ac.id/ |
Penulis: Rizky Ceviratu Salsabila Kaaffah (Sekretaris Umum PK IMM Ibnu Rusyd)
Ahad pagi, 25 Oktober 2026, jamaah berkumpul di Masjid Salman Al-Farisi, Surabaya, untuk melaksanakan salat istisqa, memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan. Di tengah kondisi cuaca panas dan kekhawatiran terhadap kekeringan, ibadah ini menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan di hadapan kekuasaan Allah.
Namun, salat istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan. Ia juga menjadi ruang muhasabah: sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam? Sebab, ada pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar menunggu turunnya air dari langit.
Memohon, Bukan Menuntut
Salat istisqa merupakan salat sunah yang disyariatkan ketika umat membutuhkan hujan. Rasulullah saw. pernah melaksanakannya sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Zaid r.a.:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَاسْتَسْقَى، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Artinya: “Nabi saw. keluar ke tempat salat untuk memohon hujan. Beliau menghadap kiblat, membalik selendangnya, dan melaksanakan salat dua rakaat.” (HR. Bukhari, no. 1012).
Ibadah ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, manusia tidak hanya mengandalkan kemampuannya, tetapi juga memohon pertolongan Allah. Meski demikian, doa bukanlah tuntutan agar keinginan segera terpenuhi. Ia merupakan pengakuan atas keterbatasan manusia sekaligus bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta.
Istighfar, Bukan Hanya Saat Membutuhkan
Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh a.s. menyeru kaumnya agar memohon ampun kepada Allah. Ayat tersebut menghubungkan istighfar dengan turunnya hujan dan datangnya berbagai karunia. Pesan serupa juga terdapat dalam Surah Hud ayat 52.
Istighfar bukan sekadar ucapan yang diulang, melainkan kesadaran untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Dari refleksi seorang jamaah terhadap pesan khutbah yang disampaikan, ada satu hal yang patut direnungkan: jangan sampai kita hanya mengingat istighfar ketika sedang membutuhkan sesuatu.
Sering kali, ketika kesulitan datang, kita menjadi lebih tekun berdoa. Namun, ketika keadaan membaik, kebiasaan itu perlahan memudar. Kita mudah mengingat Allah ketika membutuhkan pertolongan, tetapi terkadang lalai menjaga kedekatan dengan-Nya ketika hidup terasa baik-baik saja.
Karena itu, salat istisqa semestinya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, bukan hanya memohon agar keadaan segera berubah. Hujan boleh menjadi sesuatu yang kita nantikan, tetapi hubungan dengan Allah tidak seharusnya hanya dirawat ketika kita sedang membutuhkan sesuatu.
Dari Kesalehan Menuju Kepedulian
Muhasabah juga perlu melampaui hubungan personal dengan Allah. Ketika memohon hujan, kita perlu bertanya: sudahkah kita menjaga air dan merawat bumi dengan baik?
Doa dan ikhtiar tidak seharusnya dipertentangkan. Memohon hujan perlu berjalan beriringan dengan usaha menghemat air, menjaga sumber mata air, melakukan penghijauan, dan mencegah kerusakan lingkungan. Tawakal bukan sikap pasif menunggu pertolongan, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha.
Bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), momentum ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada ibadah dan diskusi. Nilai keislaman perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Kekeringan dan keterbatasan air bersih bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan sosial. Kader IMM dapat mengambil bagian melalui edukasi lingkungan, gerakan hemat air, maupun kegiatan sosial sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kesalehan personal dapat tumbuh menjadi kepedulian kolektif.
Merendah di Hadapan Langit
Pada akhirnya, salat istisqa mengajarkan bahwa kerendahan hati perlu berjalan bersama kesungguhan berusaha. Istighfar harus disertai perbaikan diri, doa perlu disertai ikhtiar, dan keimanan perlu diwujudkan dalam kepedulian.
Maka, ketika kita menengadahkan tangan ke langit, jangan hanya berharap hujan segera turun. Jadikan pula momen itu sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, serta memperbarui tanggung jawab terhadap bumi.
Sebab, jangan sampai kita hanya mengingat Allah ketika membutuhkan hujan, lalu melupakan istighfar ketika langit kembali cerah. Merendah di hadapan langit semestinya membuat kita semakin membumi dihadapan sang ilahi rabbi.
Editor: Ahmad Muharrik Albirra
